JAKARTA (Sketsa.co) — Beberapa pihak menganggap bahwa calon presiden (capres) nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan capres nomor urut 1 Anies Baswedan terlihat kompak dalam menyerang capres nomor urut 2 Prabowo Subianto pada debat perdana Pilpres 2024 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, Selasa (12/12) malam.
Sekretaris Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Hasto Kristiyanto, mengatakan bahwa sebenarnya Ganjar dan Anies tidak merencanakan untuk bersama-sama menyerang Prabowo.
“Itu [menyerang Prabowo] bukan strategi. Itu suasana kebatinan yang menyatukan karena sama-sama diintimidasi,” ungkap Hasto di Gedung High End, Jakarta Pusat, Rabu (13/12).
Dalam debat perdana tersebut, Ganjar dan Anies mengajukan sejumlah pertanyaan sensitif kepada Prabowo. Keduanya secara bersama-sama menyoroti putusan kontroversial Mahkamah Konstitusi (MK) No. 90/PUU-XXI/2023, yang menjadi dasar hukum bagi Gibran Rakabuming Raka untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) Prabowo.
Selain itu, Ganjar dan Anies juga bersama-sama mengajukan pertanyaan tentang masalah hak asasi manusia (HAM) di masa lalu, termasuk penanganan konflik di Papua, kepada Prabowo.
Beberapa pengamat dan analis politik berpendapat bahwa Prabowo terlihat terpojok dengan pertanyaan seputar putusan MK yang dianggap sarat pelanggaran etika serta persoalan HAM di masa lalu.
Baca juga: Akankah Debat Jadi Penentu Kemenangan Pilpres 2024?
Berdasarkan hasil survei terkini, termasuk dari Litbang Kompas yang dianggap kredibel, pasangan capres-cawapres Prabowo-Gibran Rakabuming Raka menduduki posisi pertama dengan elektabilitas lebih dari 39%. Sementara pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar berada di peringkat kedua dengan kisaran 16%, diikuti oleh pasangan Ganjar-Mahfud yang berada di peringkat ketiga atau terakhir dengan raihan 15%.
Meskipun kubu Prabowo-Gibran yang didukung oleh koalisi Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, dan beberapa partai nonparlemen (PSI, Gelora, dan Garuda) optimistis dapat memenangkan Pilpres 2024 dalam satu putaran melihat tren elektabilitas yang selalu berada di puncak, beberapa analis politik menilai bahwa sangat mungkin pilpres akan berlangsung dalam dua putaran.
Kendati elektabilitas Prabowo-Gibran selalu unggul, mereka belum mencapai ambang batas psikologis (di atas 50%) untuk dapat menyimpulkan bahwa mereka akan memenangkan pilpres dalam satu putaran.
Dua Putaran
Nampaknya, kubu Ganjar dan Anies berusaha keras untuk memaksa pilpres menjadi dua putaran dengan melakukan serangan seperti dalam debat perdana, dengan harapan dapat menghambat potensi kenaikan elektabilitas Prabowo. Apalagi jumlah pemilih yang masih bimbang (undecided voters) relatif besar, mencapai 28%.
Tentu saja, meskipun saat ini kubu Ganjar dan Anies terlihat bersatu menyerang kubu Prabowo, keduanya juga tengah bersaing untuk memperebutkan tiket ke putaran final dengan asumsi bahwa satu tiket final hampir pasti dipegang oleh duet Prabowo-Gibran.

