JAKARTA (Sketsa.co) — Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah sukses menggelar hajatan debat perdana antar calon presiden pada Selasa (12/12) malam yang disiarkan live secara nasional. Ketiga capres, yakni Anies Baswedan (nomor urut 1), Prabowo Subianto (2) dan Ganjar Pranowo (3), tampil nyaris tanpa hambatan berarti.
Pertanyaannya, benarkah debat bisa menjadi faktor yang mempengaruhi elektabilitas capres-cawapres, yang pada gilirannya turut menjadi penentu kemenangan Pilpres 2024?
Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani menyebutkan berdasarkan kajian elektabilitas yang dilakukannya, debat capres-cawapres tidak berpengaruh signifikan terhadap suara pemilih.
“Kalau mengukur elektabilitas dari hasil survei sebelum debat dan hasil survei setelah debat, dari rangkaian pilpres 2004 sampai 2019, pengaruh debat tidak terlalu besar,“ katanya.
Menurut dia, orang-orang yang menonton debat cenderung sudah menjadi pengikut setia setiap pasangan capres-cawapres, sedangkan para pemilih mengambang atau undecided voters rata-rata tidak berminat atau tidak terjangkau debat.
Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas periode 29 November hingga 4 Desember 2023 yang dirilis Senin (11/12), sebanyak 28,7% responden belum menentukan pilihan menjelang Pilpres 2024.
Hasil survei terbaru periode November-Desember 2023 dari Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik dan Litbang Kompas menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo-Gibran berada di peringkat satu.
Di sisi lain, perbedaan elektabilitas pasangan Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud makin tipis untuk memperebutkan peringkat kedua. Jika tak ada paslon yang meraih elektabilitas di atas 50% berdasarkan hasil survei, diperkirakan Pilpres 2024 akan berlangsung dua putaran.
Pengaruh Besar
Namun Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi pernah menilai bahwa debat memiliki pengaruh besar terhadap elektabilitas pasangan capres-cawapres.
“Kalau di pilpres, banyak orang yang selama ini merasa underestimate terhadap peran debat. Padahal di 2014, salah satu titik balik paslon Jokowi-JK (Jusuf Kalla) itu debat,” tutur Burhanuddin, seperti dikutip Kompas.com, Selasa (8/1/2019).
Burhanudin mencatat pengaruh debat terhadap elektabilitas bisa dilihat dari sejumlah pilkada maupun Pilpres 2014. Burhanuddin menyebut hasil debat antarkandidat di Pilkada DKI Jakarta, Jawa Timur maupun Jawa Barat, debat turut membantu kandidat memenangkan kontestasi.
Burhanuddin mengatakan, saat Pilpres 2014 elektabilitas Jokowi-Jusuf Kalla melejit setelah debat. Merujuk hasil survei LSI saat itu, seusai debat perdana, elektabilitas Jokowi-JK mencapai 47,5%, sedangkan paslon pesaing, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa 36,9%.
“Data kami menunjukkan justru yang mengubah permainan itu performa Jokowi di debat,” ujar Burhanuddin.
Baca juga: Drone Emprit: Anies dan Ganjar Sama-sama Raih Sentimen Positif 64%
Berdasarkan hasil survei Litbang Kompas periode 29 November hingga 4 Desember 2023, sebanyak 28,7% responden belum menentukan pilihan menjelang Pilpres 2024.
KPU masih akan menggelar empat kali rangkaian debat capres-cawapres untuk Pilpres 2024. Untuk seri kedua pada 22 Desember nanti, akan digelar debat antar cawapres yang melibatkan Muhaimin Iskandar (nomor urut 1), Gibran Rakabuming Raka (2) dan Mahfud MD (3).
Akankah debat antar kandidat capres-cawapres tersebut akan menjadi faktor penentu kemenangan paslon di Pilpres 2024?


Apakah terdapat perbedaan signifikan dalam elektabilitas calon presiden sebelum dan setelah debat? Regards Telkom University