JAKARTA (Sketsa.co) — Kaesang Pangarep membuat kejutan. Agaknya baru kali ini terjadi, seseorang yang belum genap 48 jam menjadi anggota suatu partai politik, sudah didapuk menjadi ketua umum.
Begitulah yang terjadi. Putra bungsu Presiden Joko Widodo itu secara resmi menjadi kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pada Sabtu (23/9) dan hanya selang sehari, pada Senin, sudah resmi menjadi sang ketua umum partai tersebut.
Pilihan Kaesang masuk PSI menjadi menarik mengingat sang bapak, kakak (Walikota Surakarta/Solo Gibran Rakabuming Raka) dan kakak ipar (Walikota Medan Bobby Nasution) merupakan kader PDI Perjuangan, partai besar dan mapan yang menjanjikan jejaring politik kuat dan terbukti menjadi “kendaraan” efektif untuk meniti karir politik di jalur eksekutif.
Ternyata Kaesang punya alasan tersendiri mengapa memilih PSI, yang sering diidentikkan sebagai partainya kaum muda. Padahal, pada Pemilu 2019, PSI belum bisa mendudukkan anggotanya di DPR RI alias tidak lolos parliamentary threshold/ambang batas parlemen.
“Saya tertarik bergabung PSI karena PSI belum ada di DPR dan saya ingin berjuang bersama kawan-kawan semua di sini agar pada 2024 PSI menjadi partai besar dan ada di DPR RI,” jelas Kaesang dalam acara Kopi Darat Nasional (Kopdarnas): Deklarasi Politik PSI di Djakarta Theater, Jakarta, Senin (25/9).
Langkah Kaesang ini menarik dan bisa membangkitkan optimisme kaum muda untuk terlibat dalam proses politik di tengah kegalauan sebagian dari mereka terkait dengan sepak terjang “kaum tua” dalam berpolitik.
Baca juga: Benarkah Manuver Kaesang Upaya Keluar dari Beban “Petugas Partai”?
Merintis karir politik lewat partai baru juga memberi pesan dan kesan bahwa Kaesang tidak ingin melalui “jalan tol” untuk menopang masa depan politiknya. Padahal, kalau dia masuk PDIP, tentulah Kaesang mendapatkan privelege, keistimewaan. Tapi peluang itu dia kesampingkan.
Betapa tidak? Kalau ada yang sinis Kaesang memanfaatkan pengaruh bapaknya yang sedang menjabat presiden, tentu hal itu dengan gampang dia tepiskan.
Dengan masuk PSI dan sekarang menjadi pucuk pimpinan, niscaya ada beban besar di pundaknya. Kalau PSI ternyata tidak sukses dan menjadi partai yang tangguh ke depannya, tentu orang akan mencibirnya.
Apalagi, Jokowi akan mengakhiri periode kedua jabatan kepresidenannya pada Oktober 2024. Tentu Kaesang harus kerja keras membuktikan bahwa tanpa pengaruh dan bayang-bayang Jokowi, dirinya juga mampu menahkodai “partai bocil” menjadi partai menengah, atau bahkan partai besar.

