JAKARTA (Sketsa.co) — Tekad Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk memasukkan foto sang ketua umum (Muhaimin Iskandar) dalam kertas suara Pilpres 2024 tinggal selangkah lagi bakal menjadi kenyataan.
Melalui manuver “cerdik” tak terduga, PKB atau Cak Imin (panggilan akrab Muhaimin Iskandar) dalam sekejap berhasil membuat kesepakatan dengan Ketum Nasdem Surya Paloh untuk menjadikan dirinya sebagai bakal cawapres pendamping bakal capres Koalisi Perubahan Anies Baswedan.
Peristiwa itu benar-benar tak terduga dan tak dinyana-nyana, bahkan oleh PKS dan Demokrat sebagai mitra Nasdem dalam barisan koalisi pro-Anies (Koalisi Perubahan untuk Persatuan). Wajar jika Demokrat yang merasa dikhianati oleh Nasdem dan Anies memilih hengkang dari koalisi tersebut. Di sisi lain, PKB dengan sendirinya menjadi keluar dari koalisi pendukung bakal capres Prabowo Subianto.
Sedangkan PKS, karena merasa konstituennya memang menghendaki Anies tetap nyapres, tak punya pilihan lain selain tetap mendukung duet Anies-Cak Imin. Bagi PKS, kesannya, siapapun cawapresnya, yang terpenting Anies tetap “berlayar” di pilpres mendatang.
Sesungguhnya, kendatipun PKS hengkang dari koalisi pro-Anies-Cak Imin, pasangan ini tetap bisa melaju ke pilpres, karena gabungan perolehan kursi DPR RI milik Nasdem dan PKB telah mencukupi presidential threshold 20% untuk mendaftar ke KPU.
Singkat kata, harapan Cak Imin untuk “naik kelas” dalam perjalanan karir politiknya hampir menjadi kenyataan. Jika tak ada peristiwa luar biasa—misalnya sekonyong-konyong tersandung masalah hukum serius—foto Cak Imin niscaya akan terpampang di kertas suara Pilpres 2024 sebagai salah satu cawapres.
Prospek
Memang, sejauh ini banyak pihak—termasuk kalangan pengamat dan analis politik—tidak terlalu optimistis dengan prospek pasangan Anies-Cak Imin untuk memenangkan pilpres.
Argumen bahwa keduanya akan menyatukan dua kekuatan politik Islam—yakni segmen modernis-puritan (kelompok yang diidentifikasi sebagai basis pemilih utama Anies) dan segmen tradisional-moderat/nahdliyin (basis konstituen PKB dan Cak Imin) dinilai masih bersifat spekulatif.
Baca juga: Potensi Duet GP-RK “Menyapu Bersih” Pulau Jawa
Hasil survei yang dilakukan Litbang Kompas misalnya, menyebutkan pemilih dari kalangan nahdliyin atau Nahdlatul Ulama (NU) cenderung lebih banyak yang condong ke PDIP dan Ganjar Pranowo.
Survei Litbang Kompas yang dilakukan sepanjang 27 Juli hingga 7 Agustus dengan melibatkan ribuan responden menyebutkan PDIP dan Ganjar Pranowo selaku bakal capres memperoleh elektabilitas tertinggi di segmen pemilih NU baik di tingkat nasional maupun Provinsi Jawa Timur. Berikutnya, diikuti Gerindra dan Prabowo Subianto.
Dengan demikian, akan menjadi tantangan besar bagi Cak Imin khususnya untuk menarik simpati dan dukungan nyata warga nahdliyin agar mengalirkan dukungannya pertama-tama ke PKB dan dirinya sebagai pasangan capres-cawapres.
Masalahnya, Yenny Wahid, putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), jauh hari sudah menegaskan sulit bagi pihaknya untuk mendukung capres yang cawapresnya Cak Imin.
Saat ini, katanya, pilihan politik keluarga Gus Dur maupun pengikutnya (segmen nahdliyin Gusdurian) untuk capres tinggal dua orang, yaitu Prabowo Subianto atau Ganjar Pranowo.
Tampaknya, tak mudah bagi Cak Imin untuk pada akhirnya benar-benar bisa berhasil menjadi wakil presiden setelah pernah menjadi anggota DPR beberapa periode, menteri di masa Presiden SBY, Wakil Ketua MPR, dan kini Wakil Ketua DPR…

