JAKARTA (Sketsa.co) — Presiden Joko Widodo mengajak Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo santap siang di sela-sela kegiatan di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (29/8).
Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana yang membagikan foto-foto kegiatan Presiden santap siang bersama melalui akun Instagram @dwipayanaari itu, mengatakan bahwa santap siang tersebut dilakukan setelah Presiden Jokowi menghadiri acara Muktamar Sufi di Pekalongan.
Pada Muktamar Sufi itu Ganjar hadir sebagai Gubernur Jawa Tengah, adapun Prabowo Subianto selaku Ketua Panitia Muktamar.
Selain Ganjar dan Prabowo, turut dalam acara makan siang bersama Presiden, antara lain Ibu Negara Iriana Jokowi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, istri Ganjar Pranowo, Siti Atikoh dan Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid.
Usai santap siang, Presiden didampingi Ibu Negara serta rombongan termasuk Ganjar dan Prabowo blusukan ke Pasar Grogolan, Pekalongan. Di pasar ini, Presiden menyalurkan paket sembako dan mengecek harga komoditas di pasar.
Apa yang bisa ditafsirkan dari peristiwa berkumpulnya dua kandidat calon presiden potensial, yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto bersama dengan Presiden Jokowi tersebut?
Elektabilitas Setara
Seperti diketahui, Ganjar yang diusung PDIP dan Prabowo yang diusung Gerindra memiliki elektabilitas yang relatif setara merujuk beberapa hasil survei.
Di sisi lain, keduanya juga sama-sama bertekad melanjutkan agenda pembangunan yang telah dirintis dan dikerjakan pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Namun, keduanya sama-sama dimajukan sebagai kandidat presiden, bukan wakil presiden.
Padahal, Jokowi sebagai tokoh politik yang saat ini berpotensi menjadi king maker, memiliki harapan agar dua sosok tersebut bersama partai pengusung bisa menyatukan kekuatan untuk menghadapi Pilpres 2024.
Agaknya, Jokowi belum “menyerah” untuk berupaya menyatukan dan menggabungkan dua sosok tersebut dalam satu paket pasangan capres-cawapres, sehingga seluruh kekuatan politik dan partai pro-pemerintah saat ini—minus Nasdem—bisa tetap bersama menghadapi pilpres mendatang.
Sejauh ini, koalisi PDIP, PPP, Perindo dan Hanura tampaknya tetap kukuh dengan agenda memajukan Ganjar sebagai capres. Pun begitu dengan koalisi Gerindra, PKB, Golkar dan PAN yang tetap mantap mendukung pencapresan Prabowo.
Baca juga: Akan Jadi Kejutan Kalau Bakal Cawapres Anies Bukan AHY
Tentu saja sikap politik PDIP dan Gerindra bisa saja berubah jika terjadi dinamika luar biasa menjelang pembukaan pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU pada Oktober-November mendatang. Di titik ini, faktor Jokowi diduga akan sangat berpengaruh terhadap arah perubahan sikap dan pencarian titik temu kompromi politik di antara kubu Ganjar dan Prabowo.
Keakraban Jokowi bersama Ganjar dan Prabowo di Pekalongan boleh jadi menjadi titik awal bagi langkah panjang bagi terjadinya negosiasi dan kompromi politik menuju penyatuan keduanya dalam satu pasangan capres-cawapres, entah dengan skema Ganjar-Prabowo atau Prabowo-Ganjar…

