JAKARTA (Sketsa.co) — Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menampik isu yang menyebutkan bahwa deklarasi bakal calon wakil presiden (cawapres) pendamping Anies Baswedan menghadapi kesulitan karena adanya penolakan terhadap sosok salah satu kandidat bacawapres, yakni Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
“Bukan, itu pasti bukan. Saya enggak mungkin juga… Bagaimana saya sampai pemikiran seperti itu,” ujar Surya Paloh kepada wartawan usai menggelar pertemuan dengan Anies Baswedan dan Tim 8 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta Pusat, Kamis (24/8) malam.
Seperti diketahui, Demokrat mendorong agar AHY dipilih oleh Anies sebagai bacawapres. Namun, belakangan, Demokrat mendesak Anies untuk segera mengumumkan bacawapres, karena pilpres tinggal beberapa bulan lagi, sedangkan elektabillitas Anies trennya menurun. Segera mengumumkan bacawapres dinilai bisa menjadi taktik untuk menaikkan elektabilitas.
Surya Paloh mengungkapkan pemahamannya bahwa Anies Baswedan adalah kandidat pertama yang secara resmi diumumkan sebagai capres. Menurut dia, mungkin Anies sedang mempertimbangkan memberikan kesempatan kepada calon lain (Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto) untuk lebih dulu mengumumkan cawapresnya.
Paloh juga mengungkapkan bahwa tidak ada ultimatum dari Demokrat agar ia segera mendeklarasikan AHY sebagai cawapres Anies. Namun, ia mengaku tidak mengetahui apakah PKS dan Anies merasakan tekanan semacam itu. “Masa saya diultimatum,” katanya.
Tekanan Waktu
Tampaknya KPP dan Anies menghadapi tekanan waktu untuk segera mengambil sikap terkait dengan agenda pendeklarasian bacawapres. Ada kegelisahan yang nyata dari Demokrat bahwa penundaan berlarut-larut pengumuman bacawapres dinilai justru merugikan koalisi dalam kaitan meneggelorakan semangat perubahan dan pengenalan lebih dini pasangan bacapres-cawapres kepada publik.
Kabarnya, silang pendapat tentang timing pendeklarasian bacawapres disebut-sebut menggambarkan hal lebih medasar, yakni KPP dan Anies sesungguhnya hingga kini tak kunjung menyepakati satu nama bacawpres.
Baca juga: Ide Menduetkan Ganjar-Anies Bentuk Perlawanan PDIP terhadap Jokowi?
Di sisi lain, pemberian mandat penuh kepada Anies untuk menentukan sosok bacawapresnya dinilai hanya sebentuk formalitas yang tertuang di piagam koalisi, namun kenyataannya terjadi tarik-menarik alot di antara partai-partai dalam KPP, terutama antara Nasdem dan Demokrat.
Hal itu memicu analisis pesimistis yang menyebutkan KPP berpotensi pecah dan pencapresan Anies bisa gagal di tengah jalan. Musababnya tak lain tumpang tindih kepentingan dan argumen di antara Nasdem dan Demokrat yang mengakibatkan Anies sebagai bacapres seperti tersandera dan tidak leluasa menggunakan mandat sesuai piagam koalisi, terutama dalam penentuan sosok bacawapres dan kapan akan diumumkannya.

