JAKARTA (Sketsa.co) — Burhanudin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, menilai Pilpres 2024 merupakan ajang kompetisi yang kompleks. Selain terjadi perang antar-relawan pendukung masing-masing capres, juga terjadi rivalitas di antara king maker.
Menurut Burhanudin, king maker yang muncul adalah Surya Paloh yang mengusung Anies Baswedan, Megawati Soekarnoputri yang mengusung Ganjar Pranowo, dan Presiden Jokowi yang menentukan peta Pilpres 2024.
“Yang paling menentukan adalah kompetisi tiga king maker. Pertanyaannya, seberapa kompleks hubungan Megawati dan Jokowi? Itu ditentukan bagaimana mereka bisa membuat konsensus,” ujarnya, Sabtu (13/5).
Artinya, pada titik tertentu kepentingan keduanya bisa sama dan bisa juga berbeda dengan PDIP.
Sebelumnya, Burhanudin mengungkapkan terpecahnya dukungan relawan Jokowi ke Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dikarenakan belum adanya arahan tunggal dari Presiden Jokowi.
Transformasi Jokowi
Dengan tingkat kepuasan publik (approval rating) yang relatif tinggi terhadap kinerjanya sebagai Presiden, menjelang mengakhiri periode kedua jabatan kepresidenannya, harus diakui Jokowi telah bertransformasi menjadi king maker—sosok yang memiliki pengaruh besar turut menentukan penggantinya ke depan.
Dari sekian ketua umum partai politik pemilik kursi di parlemen pro-pemerintahan Jokowi, sejauh ini yang tampak memiliki independensi kuat hanya Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Ketum Partai Nasdem Surya Paloh.
Faktanya, Megawati telah mendeklarasikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai bakal capres. Hal yang sama telah dilakukan lebih awal oleh Surya Paloh saat mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal capres (3 Oktober 2022), di mana ketika itu yang bersangkutan tinggal menghitung hari untuk mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Dengan kata lain, Megawati dan Surya Paloh terlihat relatif independen terhadap Jokowi dalam kaitan memutuskan sosok yang diusung sebagai bakal capres untuk Pilpres 2024.
Baca juga: Dinilai Terapkan Politik ‘Sigar Jambe’, Jokowi Berupaya Satukan Ganjar-Prabowo
Hal berbeda ditampilkan oleh para ketum partai pro-pemerintah lainnya, yakni Gerindra, Golkar, PKB, dan PAN. Mereka konon bahkan mengharapkan adanya “cawe-cawe” Presiden Jokowi terkait dengan penentuan sosok bakal capres dan cawapres yang akan diusung.
Itulah mengapa, saat empat partai tersebut mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai bakal capres pada Minggu (13/8), muncul spekulasi bahwa ada keterlibatan Jokowi di balik hajatan yang terkesan digelar mendadak tersebut.
Jokowi sendiri membantah dirinya terlibat dalam penentuan sosok bakal capres dari partai atau koalisi partai, karena dirinya bukan ketum partai. Dia juga membantah dirinya sebagai “Pak Lurah”, sebutan yang sering dilontarkan sejumlah pihak merujuk pada sosoknya terkait dengan arahan menghadapi pilpres mendatang.
“Saya bukan Pak Lurah. Saya Presiden Republik Indonesia,” tegas Jokowi saat berpidato di depan Sidang Umum MPR (16/8).

