JAKARTA (Sketsa.co) — Hasil survei dari Indikator Politik Indonesia menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang menginginkan Presiden Jokowi tetap netral dan tidak memihak salah satu kandidat calon presiden.
Hasil survei itu menyebutkan hanya sekitar 40% masyarakat yang setuju jika Jokowi memihak ke salah satu kandidat capres.
Masyarakat yang menyatakan ingin Jokowi bersikap netral sebanyak 26,2%, dan sebanyak 19,7% kurang setuju dengan keberpihakan Jokowi pada salah satu kandidat capres. Sementara 10,2% masyarakat menyatakan tidak setuju sama sekali dengan keberpihakan Jokowi. Sedangkan 2,9% responden tidak memberikan jawaban.
Survei ini juga menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat, yaitu 45,2%, percaya bahwa Jokowi lebih banyak mendukung capres dari PDIP, yaitu Ganjar Pranowo.
Meskipun hubungan Jokowi dan Prabowo terlihat dekat belakangan ini, hanya 29,8% masyarakat yang percaya bahwa dukungan Jokowi lebih condong pada capres dari Gerindra, yaitu Prabowo.
Secara keseluruhan, mayoritas masyarakat berpendapat bahwa Jokowi lebih mendukung Ganjar Pranowo (45,2%) daripada Anies Baswedan (9,6%).
Survei ini dilakukan oleh Indikator Politik Indonesia pada tanggal 20-24 Juni 2023 dengan mewawancarai 1.220 orang yang berusia 17 tahun atau lebih dan memiliki hak pilih. Pengambilan sampel responden dilakukan secara acak bertingkat atau multistage random sampling.
Indikator Politik juga mengklaim telah melakukan kontrol kualitas terhadap 20% responden. Survei ini memiliki tingkat kepercayaan sekitar 95% dengan margin of error sekitar +- 2,9%.
Ganjar & Prabowo
Selama ini banyak pihak meyakini bahwa Presiden Jokowi memberikan dukungan khusus terhadap dua kandidat capres, yakni Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto.
Konon dukungan itu diberikan karena keduanya dianggap bakal menjamin keberlanjutan berbagai program dan proyek pembangunan yang telah dan sedang dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi, misalnya tentang hilirisasi dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Di sisi lain, Jokowi dianggap tidak nyaman atau tidak mendukung pencapresan Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta, yang dinilai merupakan antitesa terhadap dirinya.
Baca juga: Saat Luhut Siap Jadi Ketum Golkar Tapi Bantah Dalangi Munaslub
Disebut antitesa, karena saat menjadi Gubernur DKI, Anies acapkali mengambil langkah berbeda yang dinilai oleh pendukung Jokowi dianggap sebagai “asal berbeda”, misalnya mengganti program “normalisasi sungai” era Gubernur Jokowi yang diteruskan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan “naturalisasi sungai”.
Namun, belakangan, Jokowi tampak mengambil sikap lebih luwes dan netral terhadap pencapresan Anies Baswedan. Saat bertemu Ketum Nasdem Surya Paloh di Istana Presiden, Senin (17/7) sore, Jokowi menanyakan soal bakal cawapres pendamping Anies kepada Surya Paloh, yang merupakan pimpinan Nasdem, salah satu anggota Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) selaku pengusung capres Anies Baswedan.
Agaknya, sebagai Presiden dan Kepala Negara, Jokowi ingin memberi kesan dan pesan kepada khalayak bahwa dirinya mengayomi seluruh kandidat capres yang akan berlaga di Pilpres 2024.

