JAKARTA (Sketsa.co) — Dalam sebulan terakhir, rasanya tak ada yang lebih menarik untuk diperbincangkan selain posisi dan sikap Presiden Joko Widodo terkait dengan kandidat calon presiden yang didukungnya di Pilpres 2024.
Sejauh ini, muncul kesan kuat bahwa posisi dan sikap Jokowi mendua di antara mendukung pencapresan Ganjar Pranowo oleh PDI Perjuangan atau mendukung pencapresan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang kini juga merupakan Menteri Pertahanan.
Normalnya, sebagai kader PDIP, Jokowi mestinya tunduk dan “tegak lurus” mendukung siapapun capres yang diusung partainya, dalam hal ini Ganjar Pranowo. Namun, ada kesan kuat bahwa Jokowi juga tampak memberi dukungan atau setidaknya “restu” kepada Prabowo yang notabene merupakan seterunya di dua kali pilpres: 2014 dan 2019.
Posisi Unik
Terkait dengan konstelasi Pilpres 2024, posisi Jokowi memang unik. Bukan pimpinan atau petinggi partai manapun dan statusnya hanya kader biasa di PDIP, namun pengaruh Jokowi demikian besar dalam peta perpolitikan jelang pilpres mendatang.
Seperti yang diungkapkan politisi senior PDIP Panda Nababan dalam sejumlah tayangan podcast, banyak pimpinan partai yang “meminta petunjuk” Jokowi terkait dengan pilpres. Padahal, setelah Oktober 2024, Jokowi bukan lagi presiden dan otomatis kembali menjadi warga negara biasa tanpa power.
Namun, kurang dari delapan bulan menjelang pemilu serentak 2024, pengaruh Jokowi di antara elite politik masih sedemikian besar dan menentukan. Ini tentu menjadi sesuatu yang menarik, gerangan apa yang membuat Jokowi demikian powerfull?
Jawabnya tentu tak lepas dari tingkat kepuasan publik (approval rating) yang relatif tinggi atas kinerjanya sebagai presiden. LSI Denny JA dalam surveinya beberapa waktu lalu menyebutkan kepuasan publik atas kinerja Jokowi mencapai 82%, sementara Litbang Kompas menyebutkan 69,3%, sedangkan Indikator Politik Indonesia mengungkapkan 79,%.
Tingkat kepuasan publik yang relatif tinggi itu pula yang menjadi alasan penjelas utama betapa Jokowi masih demikian berpengaruh dalam konstelasi perpolitikan elite mutakhir. Dengannya, menjadi wajar kandidat presiden manapun berharap mendapat semacam endorsement, restu atau bahkan dukungan khusus dari Jokowi untuk menggapai target politiknya: memenangkan Pilpres 2024.
Baca juga: Mengapa Jokowi Minta Projo Beri Dukungan Capres Last Minute?
Tentu Jokowi sangat sadar bahwa baik Ganjar maupun Prabowo kini tengah “berebut” dukungan spesial darinya. Pertanyaannya, akankah Jokowi sebagai kader PDIP pada akhirnya menyatakan sikap lugas untuk hanya mendukung pencapresan Ganjar seperti yang antara lain diyakini oleh politisi PDIP Adian Napitupulu?
Atau, mungkinkah Jokowi melalui “partainya” yang bernama organisasi relawan Pro-Jokowi (Projo) justru memberikan dukungan atas pencapresan Prabowo? Atau, melalui Projo, Jokowi memilih bersikap abu-abu, alias tidak secara ekpslisit mendukung Ganjar atau Prabowo sampai pelaksanaan hajatan pilpres, setidaknya di putaran pertama, seandainya pilpres bakal berlangsung dua putaran?

