JAKARTA (Sketsa.co) — Presiden Joko Widodo meminta organisasi relawan Pro-Jokowi (Projo) untuk tidak terburu-buru dalam memberikan dukungan kepada calon presiden dalam Pilpres 2024.
Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengonfirmasi hal itu pada Rabu (5/7). Menurutnya, Jokowi bahkan menyarankan agar sikap Projo ditentukan pada saat-saat terakhir (last minute) menjelang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden di Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Budi menjelaskan bahwa situasi menjelang Pilpres 2024 sangatlah dinamis, oleh karena itu Projo harus berhati-hati dan teliti. Budi juga menegaskan bahwa Projo sepenuhnya mendukung Jokowi.
“Kami masih menunggu pembentukan koalisi oleh partai-partai peserta Pemilu 2024, termasuk siapa capres dan cawapres yang akan diusung,” ujar Budi.
Budi juga enggan memberikan jawaban mengenai siapa yang saat ini didukung oleh Projo, apakah Ganjar Pranowo (capres PDIP) atau Prabowo Subianto (kandidat capres Partai Gerindra).
Dia menyatakan bahwa pihaknya masih terus memperkuat konsolidasi di berbagai daerah terkait sikap dukungan tersebut. Budi menegaskan bahwa Projo telah mengadakan konferensi daerah di seluruh Indonesia sejak akhir Juni 2023.
Melalui kegiatan tersebut, Budi ingin mendengarkan aspirasi dari seluruh relawan.
“Kami akan menentukan sikap akhir Projo dalam sebuah forum Rakernas pada bulan Oktober 2023 di Jakarta. Kami akan menunggu dan patuh terhadap perintah dari Presiden Jokowi,” tegasnya.
Dua Kemungkinan
Sedikitnya ada dua kemungkinan mengapa Jokowi meminta Projo mengumumkan dukungan terhadap capres pada last minute atau menjelang pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU pada Oktober-November 2023.
Pertama, Jokowi ingin melihat peta terakhir koalisi partai dan pasangan capres-cawapres yang diusung, terutama koalisi pendukung capres Ganjar Pranowo dan capres Prabowo Subianto. Di titik ini, Jokowi tentu saja ingin memastikan bahwa cawapres yang menjadi pasangan masing-masing capres itu sesuai dengan harapan Jokowi, yakni sosok yang memiliki komitmen untuk melanjutkan pembangunan yang telah dan sedang dikerjakannya sejauh ini.
Dengan asumsi bahwa Jokowi memberi dukungan terhadap Ganjar dan Prabowo untuk sama-sama maju menjadi capres melalui koalisi partai yang berbeda, maka penentu akhir dukungan adalah sosok cawapres pendamping Ganjar dan Prabowo.
Baca juga: Benarkah Yenny Wahid Jadi ‘Jalan Tengah’ Antara Nasdem-Demokrat?
Gosip yang beredar menyebutkan Jokowi “merestui” sejumlah nama untuk dijadikan cawapres, entah oleh Ganjar atau Prabowo, yakni Menparekraf Sandiaga Uno, Menteri BUMN Erick Thohir, Menko Polhukam Mahfud MD, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Kedua, jika Ganjar dan Prabowo pada akhirnya berpasangan dengan salah satu dari sekian nama kandidat cawapres tersebut, maka sangat mungkin Jokowi akan meminta Projo untuk mengambil sikap final memberikan dukungan kepada dua capres tersebut.
Sebaliknya, jika Ganjar atau Prabowo berpasangan dengan sosok cawapres yang di luar harapan Jokowi, maka Projo akan menjatuhkan dukungan kepada capres yang berpasangan dengan cawapres yang memenuhi kriteria Jokowi. Jadi, sosok cawapres tampaknya akan menjadi penentu akhir arah Projo dalam mendukung entah Ganjar atau Prabowo dalam Pilpres 2024?

