JAKARTA (Sketsa.co) — Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Benny K. Harman mengungkapkan bahwa Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki peluang 80% untuk menjadi bakal calon wakil presiden pendamping Anies Baswedan.
“Mudah-mudahan. Ya, sekitar 80% (peluang AHY jadi bakal cawapres Anies),” ujar Benny Harman saat ditemui wartawan di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Senin (12/6).
Sementara itu, Juru Bicara PKS Muhammad Kholid menegaskan pihaknya menyerahkan penentuan cawapres kepada Anies Baswedan sesuai piagam koalisi dan disepakati tiga pimpinan partai, yakni Nasdem, Demokrat dan PKS.
Menurut Kholid, Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) merupakan sebuah koalisi presidensial, sehingga capreslah yang memimpin koalisi tersebut. “Penentuan cawapres ditentukan oleh capres,” ujarnya.
Nasdem, Demokrat dan PKS punya hak mengusulkan calon cawapres, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Anies.
“Keputusan berada di tangan beliau (Anies),” kata Kholid.
Sudirman Said, juru bicara Anies Baswedan, menyatakan bahwa Anies telah selesai memilih calon cawapresnya, dan sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkannya.
“Proses pemilihan sudah selesai. Tinggal menunggu waktu yang tepat bagi Pak Anies untuk memutuskan dan mengumumkannya,” ungkap Sudirman, Sabtu (10/6).
Anies sendiri saat ditemui wartawan di Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, Senin (12/6), enggan membocorkan tanggal pengumuman dan sosok cawapresnya. “Begitu waktunya ada, nanti disampaikan,” tukasnya, singkat.
Paling Risau
Harus diakui, Partai Demokrat tampak yang paling risau dengan persoalan nama bakal cawapres Anies Baswedan, termasuk kapan sosok itu segera dideklarasikan.
Andi Arief, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Demokrat, bahkan mengatakan partainya akan melakukan evaluasi bila hingga Juni ini KPP tak kunjung mendeklarasikan bakal cawapres Anies.
Menurut dia, merosotnya elektabilitas Anies berdasarkan hasil sejumlah survei ada kaitannya dengan lambatnya KPP mendeklarasikan cawapres untuk Anies.
Di tengah kerisauan atas melorotnya elektabilitas Anies dibandingkan kompetitor dekatnya, yakni Ganjar Pranowo dan atau Prabowo Subianto, sejumlah pihak mencoba “menggoda” Demokrat untuk memempertimbangkan mengalihkan kerjasama politik jelang Pilpres 2024.
Yang teranyar tentu manuver PDIP yang menawarkan kerjasama dengan Demokrat dengan diawali pertemuan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dengan Sekjen Partai Demokrat Teuku Riefky Harsa di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (11/6) malam.
Pertemuan itu membahas rencana pertemuan Ketua DPP PDIP Puan Maharani dengan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Meski kedua belah pihak mengkalim menjaga etika politik karena masing-masing berada dalam posisi berbeda terkait dengan pilpres, toh tak ada yang tak mungkin dalam politik.
Dengan kata lain, bukan tak mungkin Demokrat pada akhirnya berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung capres Ganjar Pranowo jika merasa tak nyaman lagi di KPP. Apalagi, kalau skema kerjasama dengan PDIP itu dibarengi kesepakatan menjadikan AHY sebagai cawapres pendamping Ganjar…
Singkat kata, seandainya AHY tak jadi cawapres pendamping Anies, rasanya tak sulit membayangkan skenario Demokrat “pindah ke lain hati”…

