JAKARTA (Sketsa.co) — Simulasi jajak pendapat Litbang Kompas periode Mei 2023 menunjukkan hasil yang menarik jika terjadi head-to-head kandidat presiden Prabowo Subianto dengan Ganjar Pranowo atau Anies Baswedan.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo Subianto selalu unggul jika berhadapan dengan Ganjar Pranowo mapun Anies Baswedan.
Jika berhadapan dengan Ganjar di pilpres mendatang, Prabowo mendapatkan dukungan 51,1%, sedangkan Ganjar meraih 48,9%.
Namun, jika pesaing Prabowo dalam perebutan kursi RI-1 adalah Anies Baswedan, tingkat elektabilitas Prabowo memiliki keunggulan jauh lebih besar. Prabowo mendapatkan dukungan 62%, sedangkan Anies hanya memperoleh 38%.
Dengan demikian, hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan bahwa Prabowo Subianto memiliki popularitas yang kuat dan menjadi sosok yang diunggulkan dalam konteks pilpres mendatang, terutama jika bersaing dengan Ganjar Pranowo maupun Anies Baswedan.
Dari hasil survei yang sama, elektabilitas Ganjar Pranowo menunjukkan keunggulan dalam simulasi ketika dibandingkan dengan dua capres lainnya, yakni Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ganjar mendapatkan dukungan 40%, Prabowo 36,8%, dan Anies 23,2%.
Makin Musykil
Hasil survei Litbang Kompas yang memperlihatkan elektabilitas Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto yang salip-salipan itu niscaya memiliki implikasi politik penting.
Dengan asumsi bahwa hasil survei Litbang Kompas memiliki tingkat kredibilitas dan kesahihan yang tinggi, maka elektabilitas Ganjar dan Prabowo yang kejar-kejaran membawa konsekuensi sebagai berikut.
Pertama, peluang menyatukan Ganjar-Prabowo sebagai pasangan capres-cawapres makin musykil, karena keduanya sama-sama punya potensi besar untuk memenangkan kontestasi pilpres mendatang.
Baca juga: Menunggu Kandidat Capres Pilihan Partai Amanat Nasional…
Dengan kata lain, PDIP akan maju terus dengan keputusannya untuk mengusung Ganjar sebagai capres, sedangkan Partai Gerindra juga tak punya alasan untuk tidak meneruskan pencapresan Prabowo. Hampir bisa dipastikan PDIP dan Gerindra tidak akan berkoalisi pada Pilpres 2024, karena akan mengusung nama capres yang berbeda.
Kedua, posisi Presiden Jokowi akan makin menentukan dalam permainan akhir kontestasi pilpres kali ini. Dengan tingkat kepuasan publik (approval rating) yang relatif tinggi, “keberpihakan” Jokowi agaknya bakal menjadi penentu kemenangan akhir.
Namun, sangat mungkin, Jokowi akan mengambil posisi netral sebagai presiden demi memperlihatkan sikap kenegarawanan. Meski, sebagai kader PDIP, tampaknya Jokowi akan tunduk dan patuh dengan keputusan partai untuk mendukung pemenangan Ganjar Pranowo sebagai capres.
Pada dasarnya, dengan capaian elektabilitas Ganjar dan Prabowo yang sama-sama tinggi, siapapun di antara dua nama ini yang akhirnya terpilih sebagai presiden, tak terlalu menjadi masalah bagi Jokowi, karena sama-sama bertekad untuk meneruskan program-program pembangunan pemerintahannya.

