JAKARTA (Sketsa.co) — Hasil survei Indikator Politik Indonesia mengungkapkan bahwa Anies Baswedan mendominasi dukungan pemilih di DKI Jakarta.
Dalam kategori calon presiden (capres), mantan Gubernur DKI Jakarta itu meraih 42,4% suara, disusul oleh Ganjar Pranowo dengan 33,2% suara, dan Prabowo Subianto dengan 16,6% suara. Sebanyak 7,9% responden tidak memiliki jawaban atau tidak tahu.
Survei Indikator tersebut melibatkan 2.060 responden yang merupakan warga negara Indonesia di Provinsi DKI Jakarta yang memenuhi syarat untuk memberikan suara dalam pemilihan umum.
Sampel survei diambil secara acak dengan metode multistage random sampling. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara yang telah terlatih.
Survei dilaksanakan pada periode 24 Februari hingga 3 Maret 2023. Ukuran sampel basis sebanyak 820 responden memiliki margin of error sekitar ±3,5% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel survei didistribusikan secara proporsional di seluruh wilayah DKI Jakarta.
Menurut Burhanuddin Muhtadi, Peneliti Utama Indikator, dalam simulasi tiga nama, dukungan untuk Anies Baswedan mengalami penurunan sedikit, sementara dukungan untuk Ganjar Pranowo stagnan dan Prabowo Subianto cenderung meningkat.
Dengan hasil survei seperti itu, Anies mengukuhkan diri sebagai sosok dengan elektabilitas tinggi di Ibu Kota. Ini berarti, seandainya pemilihan presiden hanya digelar di Jakarta, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu niscaya akan keluar sebagai pemenang!
Tetap Kokoh
Lima tahun penuh memimpin DKI Jakarta, dukungan terhadap Anies tetap kokoh, meski sebenarnya mengalami penurunan dibandingkan perolehan suaranya dalam putaran kedua Pilkada DKI 2017 yang mengantarkannya sebagai pemenang kursi gubernur, yakni mencapai nyaris 58%.
Pertanyaannya, mampukah Anies dengan pasangan cawapresnya nanti (kalau pada akhirnya ikut berlaga di Pilpres 2024) mengulang cerita sukses Pilkada DKI 2017?
Dengan hasil survei elektabilitas berbagai lembaga polling yang memperlihatkan posisinya sejauh ini stagnan di peringkat tiga di bawah Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto, tentu bukan pekerjaan mudah untuk membalikkan posisi.
Meyakinkan mayoritas warga dari Sabang sampai Merauke bahwa dirinya adalah sosok terbaik dari sejumlah “putra terbaik bangsa” yang menjadi peserta pilpres, tentu butuh upaya luar biasa, termasuk kerja mesin partai koalisi pengusung yang efektif.
Baca juga: Saat Elektabilitas Ganjar Meroket, Anies Merosot
Dengan dukungan tiga partai (Nasdem, Demokrat dan PKS) yang berbeda posisi dengan mayoritas partai pendukung pemerintahan Presiden Jokowi, Anies dan seluruh organ tim suksesnya, termasuk para relawan, mesti kerja keras luar biasa dibandingkan kandidat presiden lainnya.
Apalagi, dengan approval rating (tingkat kepuasan publik) yang tinggi terhadap pemerintahan Jokowi, Anies sebagai kandidat presiden “antitesa” yang tidak mendapat “restu” rezim yang tengah berkuasa tampaknya akan menghadapi kesulitan serius untuk meyakinkan publik bahwa dirinya adalah “sosok perubahan” yang layak meneruskan kepemimpinan Republik ini lima tahun berikutnya…
Singkat kata, Anies harus kerja ekstra keras kalau ingin menang pilpres. Ingat, Indonesia bukan hanya Jakarta!
