JAKARTA (Sketsa.co) — Pertemuan tiga pimpinan partai Koalisi Indonesia Bersatu/KIB (Golkar, PAN dan PPP) pada Kamis (27/4) malam tidak menghasilkan kesepakatan arah dukungan kepada bakal calon presiden tertentu.
Tiga partai itu menyepakati terkait dengan urusan capres yang akan diusung, masih bersifat dinamis dan belum memutuskan mendukung bakal capres tertentu.
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto mengatakan keputusan PPP mendukung Ganjar merupakan aspirasi dari PPP melalui mekanisme internal partai yang ditampung bersama.
“KIB menampung seluruh aspirasi yang dibawa partai masing-masing. KIB adalah keluarga, jadi masing-masing berbicara atas nama KIB dan partai, kemudian kita rundingkan kembali secara internal,” ujar Airlangga usai pertemuan.
Lebih lanjut, Airlangga menyatakan KIB akan melakukan pembicaraan lanjutan untuk menyikapi masukan PPP yang mendukung Ganjar.
Di sisi lain, KIB melalui PAN juga masih berkomunikasi dengan Partai Gerindra dan PKB di Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) terkait wacana koalisi besar lima partai.
Senada dengan Airlangga, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan menghormati keputusan internal PPP mendukung Ganjar Pranowo.
Dia mengatakan pada saatnya PAN juga akan memberikan masukan capres untuk KIB yang nantinya dibahas bersama. “(Bakal capres) masing-masing partai di KIB itu bisa sama, bisa tidak, baru kita berembuk. Apakah ada kesepakatan atau tidak pada akhirnya nanti, jadi masih panjang perjalanannya,” ujar Zulkifli.
Bimbang
Terasa ada kebimbangan yang menyelimuti Golkar dan PAN setelah PPP mengambil posisi dengan mendeklarasikan dukungan atas pencapresan Ganjar Pranowo.
Kebimbangan itu bermuara pada apakah Golkar dan PAN mesti mengikuti langkah PPP dengan segera mendeklarasikan dukungan kepada Ganjar, atau memilih jalan lain, yakni memberi dukungan atas pencapresan Prabowo Subianto, Ketum Partai Gerindra.
Tentu tak mudah bagi Golkar dan PAN memilih antara mendukung Ganjar atau Prabowo, mengingat kedua sosok ini memiliki elektabilitas tinggi dan punya peluang yang nyaris sama untuk memenangkan kontestasi pilpres mendatang.
Baca juga: Mungkinkah Prabowo Gandeng Anies Cawapres?
Di sisi lain, jika Golkar mendukung pencapresan Prabowo, dengan sendirinya KIB bakal bubar, karena setidaknya langkah itu akan berseberangan dengan PPP.
Pertanyaannya, jika Golkar mendukung Prabowo, adakah Airlangga Hartarto selaku ketua umum partai tersebut bakal didapuk sebagai bakal cawapres pendamping Prabowo? Atau hanya akan memperoleh komitmen diakomodasi di kabinet dengan skema maksimal jika memenangkan kontestasi?
Buat PAN mungkin jauh lebih sederhana persoalannya, mengingat sejak awal partai ini tak punya ekspektasi tinggi dalam bursa Pilpres 2024.
Beberapa kali Ketum PAN Zulkifli Hasan mengisyaratkan pihaknya siap memberikan dukungan kepada Ganjar maupun Prabowo tanpa embel-embel harus mendapatkan jatah cawapres. Sebagai partai menengah, PAN cukup realistis untuk mendaptkan jatah power sharing di kabinet.

