JAKARTA (Sketsa.co) – Rencana pembentukan koalisi besar terus bergulir meski menyisakan pertanyaan tentang apakah PDIP akan ikut bergabung atau jalan sendiri untuk mengusung kadernya sebagai calon presiden.
Sejak digelar Silaturahmi Ramadhan pada Minggu (2/4) di Kantor DPP PAN, Jakarta, wacana dan rencana pembentukan koalisi besar partai pendukung pemerintahan Jokowi terus bergulir.
Dalam hajatan tersebut, digelar pertemuan lima pimpinan partai, yakni Golkar, PPP dan PAN yang tergabung dalam Koalisi Indonesia bersatu/KIB, serta Gerindra dan PKB yang tergabung dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya/KKIR.
Pertemuan lima pimpinan partai tersebut juga melibatkan Presiden Jokowi yang mengaku hanya mendengarkan pembicaraan mereka. “Cocok. Saya hanya bilang cocok,” kata Jokowi menanggapi pertanyaan awak media usai pertemuan, soal kemungkinan meleburnya KIB dan KKIR untuk membentuk koalisi besar.
Dua pimpinan partai pro pemerintahan Jokowi lainnya, yakni Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang diundang tapi tak bisa datang karena sedang berada di luar negeri, serta Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, yang memang tidak diundang karena sudah membentuk koalisi bersama Demokrat dan PKS untuk mengusung pencapresan Anies Baswedan.
Kandidat Kuat
Sejak pertemuan di Kantor PAN yang melibatkan Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Plt. Ketum PPP Mardiono, serta tuan rumah Ketum PAN Zulkifli Hasan, nama Prabowo sebagai kandidat capres koalisi besar berhembus kencang.
Tak lama berselang, sejumlah pimpinan partai hilir-mudik bertandang menemui Prabowo di kediaman, Jl. Kertanegara, Jakarta. Tercatat, antara lain, Ketum Perindo Hary Tanoesoedibjo, disusul Ketum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra, berikutnya Ketum PAN Zulkifli Hasan. Lalu Ketum Golkar Airlangga Hartarto bertemu empat mata dengan Prabowo di Kantor Menhan.
Baca juga: Faktor Cawapres Berpotensi Buyarkan Koalisi Pro Anies
Tak ayal lagi, hal itu niscaya tak lepas dari spekulasi bahwa Prabowo menjadi sosok paling potensial untuk dicapreskan koalisi besar, apalagi ditambah hasil survei belakangan (misal LSI) yang menyebutkan elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu menjadi yang paling tinggi di antara dua nama kandidat capres lainnya, yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Jika pada akhirnya KIB dan KKIR sepakat menyatukan diri dalam koalisi besar yang oleh Zulkifli Hasan juga disebut Koalisi Kebangsaan, tampaknya Prabowo hampir pasti diusung sebagai capres. Ini berarti koalisi besar (minus PDIP) akan menjadi koalisi pro Prabowo…

