JAKARTA (Sketsa.co) — Meski telah diikat dengan piagam deklarasi, ada sisa keraguan bahwa koalisi Partai Nasdem, Demokrat dan PKS bakal tetap solid untuk mengusung pencapresan Anies Baswedan.
Keraguan itu bertumpu pada persoalan alotnya Koalisi Perubahan untuk Persatuan/KPP — nama resmi kerja sama tiga partai itu dalam mengusung pencapresan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut —dalam memutuskan dan menetapkan sosok calon wapres.
Bukan rahasia lagi bahwa Nasdem, Demokrat dan PKS punya jagoan berbeda tentang siapa figur yang dianggap pas sebagai cawapres untuk mendampingi Anies.
Sementara Nasdem dan Demokrat tampak lebih luwes, Demokrat agaknya tak bergeser dengan sikap awal yang mengusulkan nama sang ketua umum (Agus Harimurti Yudhoyono) sebagai cawapres.
Seperti diketahui, Nasdem cenderung mengusulkan nama sosok non-partai sebagai cawapres, misalnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Di mata Nasdem, Khofifah memiliki segala atribusi yang bisa menutupi kelemahan Anies, terutama untuk basis pemilih di Jawa Timur, salah satu provinsi yang dianggap jadi penentu kemenangan pilpres. Nama lain yang akhir-akhir ini juga dimunculkan adalah Menko Polhukam Mahfud MD.
Sementara PKS, yang secara resmi masih mengusulkan nama mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan sebagai kandidat cawapres Anies, belakangan tampak membuka kemungkinan untuk mendorong Menparekraf Sandiaga Uno sebagai cawapres seraya berharap sukses duet Anies-Sandiaga pada Pilkada DKI 2017 bisa terulang di Pilpres 2024.
Meski Anies Baswedan diberi mandat penuh oleh tiga partai tersebut untuk memilih cawapres, namun rasanya musykil mantan Mendikbud itu tidak mempertimbangkan usulan nama-nama dari mereka.
Persoalnanya, jika masing-masing partai pengusungnya sulit mencari titik temu soal nama kandidat cawapres, hal itu niscaya akan menjadi beban tersendiri bagi Anies.
Tim Kecil
Idealnya, tim kecil tiga partai yang diminta Anies untuk membantunya menginventarisir dan mengkaji nama-nama kandidat cawapres bisa segera mencapai kata sepakat yang mengerucut pada, misalnya, dua-tiga figur potensial.
Dengannya, hal itu akan mempermudah Anies untuk memilih satu nama yang dianggap paling pas dan cocok, baik untuk mendongkrak elektabilitas atau potensi perolehan suara maupun diajak kerjasama memimpin pemerintahan jika memenangkan pilpres.
Baca juga: Ketika Dukungan ke Ganjar Pranowo Kembali Menguat
Nah, justru di titik itulah persoalan krusialnya. Adakah jaminan tiga partai itu tetap akan solid mengusung pencapresan Anies seandainya nama cawapres yang dipilih Anies berbeda dengan aspirasi atau usulan mereka?
Sederhananya, apakah Demokrat akan tetap solid dan memberikan dukungan maksimal kepada Anies di pilpres seandainya AHY tak terpilih sebagai cawapres? Atau skenario yang paling buruk, mungkinkah Demokrat akan keluar dari KPP?
Bukan apa-apa. Jika sampai salah satu partai—entah Nasdem, Demokrat atau PKS—hengkang dari koalisi, dengan sendirinya Anies tak bisa maju di pilpres, kecuali ada partai pengganti untuk melengkapi syarat presidential threshold…

