JAKARTA (Sketsa.co) — Tak ada yang menyangkal bahwa sosok Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto belakangan ini namanya kian moncer, begitu pun elektabilitasnya sebagai salah satu bakal calon presiden unggulan.
Tatkala nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengalami semacam turbulensi gara-gara penolakannya terhadap Timnas Israel yang oleh sebagian pihak dikaitkan dengan keputusan FIFA membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia, nama Prabowo justru kian lekat dengan membesarnya peluang Menteri Pertahanan tersebut untuk memenangkan Pilpres 2024.
Seperti diketahui, suara Ganjar yang menolak Timnas Israel yang dikaitkan dengan langkah FIFA mencoret Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 sedikit-banyak telah memberi dampak negatif terhadap elektabilitas Ganjar yang sebelumnya nyaris selalu menduduki peringkat tertinggi hasil sejumlah survei.
Yang menarik, di tengah kritik dan kecaman sebagian warganet terhadap Ganjar Pranowo, pamor Prabowo justru kian mengkilat. Dalam pertemuan lima pimpinan partai bersama Presiden Jokowi di Kantor DPP PAN, Jakarta, Minggu (2/4), tampak kehadiran Prabowo mendapat sorotan khusus dari para pimpinan partai, juga dari Jokowi sendiri.
Dalam pertemuan lima pimpinan partai pro pemerintahan Jokowi tersebut—minus kehadiran Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang diundang tapi berhalangan karena berada di luar negeri, juga Ketum Nasdem Surya Paloh yang memang tak diundang, tercetus embrio pembentukan koalisi besar untuk menghadapi pilpres mendatang. Agaknya, kans Prabowo untuk dicapreskan koalisi besar terbuka lebar.
Harry Tanoe & Yusril Ihza
Entah kebetulan atau tidak, selang beberapa hari kemudian, tepatnya Rabu (5/4), Ketua Umum Partai Perindo Harry Tanoesoedibjo bersama jajaran pengurus partai bersilaturahmi ke kediaman Prabowo di Kertanegara, Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengajak Harry Tanoe agar Perindo bergabung ke koalisi besar. Harry Tanoe menyambut baik ajakan Prabowo tersebut.
Keesokan harinya, Kamis (6/4), giliran Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra bersama petinggi partai lainnya menemui Prabowo di tempat yang sama.
Yusril menyambut baik gagasan pembentukan koalisi besar. Dia menilai koalisi besar adalah ideal, sehingga tidak ada oposisi frontal yang bisa mengakibatkan perpecahan.
Prabowo setengah berkelakar juga meminta Yusril mendukungnya untuk maju pilpres. “Kalau kali ini tidak dukung saya, kebangetan,” katanya.
Sabtu (8/4), giliran Ketum PAN Zulkifli Hasan bersama jajaran pimpinan PAN direncanakan akan menemui Prabowo di Kertanegara. Diduga agenda pertemuan Zulhaz-Prabowo membahas tindaklanjut rencana pembentukan koalisi besar yang sudah diinisiasi dalam pertemuan di Kantor PAN bersama Presiden Jokowi, Minggu (2/4).
Baca juga: Koalisi Besar Diprediksi Bakal Alot Sepakati Nama Capres
Harry Tanoe dan Yusril Ihza Mahendra, meski bukan pimpinan partai yang punya kursi di DPR RI, namun keduanya merupakan sosok yang memiliki kekuatan unik. Harry Tanoe adalah pebisnis tangguh dan pemilik jaringan media MNC, sementara Yusril bukan saja mantan Menteri Sekretaris Negara serta Menteri Hukum dan Perundang-undangan, namun juga seorang pakar hukum tata negara.
Mereka tentu punya ketajaman intuisi politik melihat perkembangan gelagat dukungan elite partai-partai pro Jokowi yang tampak mengarah kepada sosok Prabowo untuk diusung sebagai bakal capres 2024. Di sisi lain, Presiden Jokowi sendiri berulangkali seperti memberi isyarat mendukung Prabowo untuk maju sebagi capres.
Benarkah Prabowo akan menjadi “medan magnet” politik pada Pilpres 2024?

