JAKARTA (Sketsa.co) — Benarkah wacana pembentukan koalisi besar yang menyatukan Koalisi Indonesia Bersatu/KIB (Golkar, PPP, dan PAN) bersama Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya/KKIR (Gerindra dan PKB) merupakan bagian dari “manuver tipis-tipis” Presiden Jokowi?
Pertanyaan itu patut dikemukakan mengingat kehadiran Jokowi dalam Silaturahmi Ramadhan yang digelar di Kantor DPP PAN, Minggu (2/4) yang juga dihadiri lima pimpinan partai koalisi pendukung pemerintah minus Ketum Nasdem Surya Paloh yang memang sengaja tak diundang, serta Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang absen karena sedang berada di luar negeri.
Usai pertemuan, Jokowi mengaku hanya mendengarkan pembicaraan para ketua partai tentang rencana pembentukan koalisi besar. “Saya hanya mendengarkan,” katanya.
Ketum Golkar Airlangga Hartarto mengakui bahwa pertemuan lima ketua partai tersebut membahas pondasi pembentukan koalisi besar, yang diniatkan untuk meneruskan program pemerintahan Jokowi.
Soal pembahasan kandidat capres-cawapres yang akan diusung koalisi besar, Airlangga mengisyaratkan hal itu akan dibahas dalam pertemuan babak berikiutnya
Sementara itu, Ketua DPP PDIP Puan Maharani memberi respons positif atas kemungkinan terbentuknya koalisi besar partai-partai anggota koalisi pendukung pemerintahan Jokowi tersebut asal punya visi-misi dan cita-cita yang sama untuk Indonesia.
Puan yang juga Ketua DPR mengatakan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri siap menjadi tuan rumah pertemuan lanjutan untuk membahas pembentukan koalisi besar tersebut.
Yang diketahui publik sejauh ini, Jokowi mengharapkan presiden penggantinya nanti meneruskan program-program yang sudah dikerjakan dan dirintisnya selama dua periode memimpin republik ini sejak 2014, misalnya program pindah ibu kota negara (IKN).
Paling Siap
Airlangga Hartarto menegaskan koalisi besar yang terdiri dari partai-partai anggota koalisi pendukung pemerintah memang diniatkan untuk meneruskan program-program pemerintahan Presiden Jokowi.
“Gerbong inilah yang siap untuk melanjutkan program (pemerintahan Jokowi) secara lebih cepat,” ujarnya.
Meski dalam pembicaraan lima ketua partai di Kantor PAN, Jokowi mengaku hanya mendengarkan, namun patut diduga embrio terbentuknya koalisi besar tak lepas dari sepengetahuan atau bahkan “restu” dari mantan Walikota Solo tersebut.
Baca juga: Menunggu Negosiasi Koalisi Besar Pro-Jokowi dengan PDIP
Dengan kata lain, adalah wajar jika wacana soal koalisi besar partai untuk menghadapi Pilpres 2024 dinilai merupakan bagian dari “manuver tipis-tipis” Jokowi untuk melakukan “negosiasi” dengan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri yang hingga kini sama sekali belum memperlihatkan sinyal bakal menunjuk nama tertentu sebagai kandidat capres.
Jika benar rencana pembentukan koalisi besar merupakan bagian dari manuver Jokowi, tidaklah salah apabila beberapa kandidat potensial capres-cawapres seperti berharap semacam endorsement atau “restu” dari Jokowi…

