JAKARTA (Sketsa.co) — Rencana deklarasi bersama tiga partai anggota Koalisi Perubahan untuk mengusung pencapresan Anies Baswedan batal digelar sebelum memasuki bulan Ramadan. Benarkah maju-mundur deklarasi Koalisi Perubahan terbentur soal cawapres Anies?
Meski dibantah, batalnya deklarasi Koalisi Perubahan sebelum Ramadan agaknya terkait dengan belum tercapainya kesepakatan tentang kandidat cawapres pendamping Anies.
Kendati konon Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS telah sepakat menyerahkan penentuan nama cawapres kepada Anies Baswedan, namun di bawah permukaan tampaknya terjadi tawar-menawar atau negosiasi yang alot.
Kesan yang mencuat di permukaan, Nasdem dan PKS seperti kurang nyaman dengan usulan dan harapan Demokrat untuk menyandingkan AHY sebagai cawapres bagi Anies. Harus diakui, Demokrat memang terkesan mendesakkan aspirasi agar AHY menjadi cawapres yang diusung bersama pencapresan Anies.
Baca juga: Soal Pernyataan BG “Sebagian Aura Jokowi Pindah ke Prabowo”
Sebaliknya, Demokrat juga seperti tidak berkenan dengan usulan sosok di luar partai Koalisi Perubahan sebagai kandidat cawapres seperti yang kerap disuarakan elite Nasdem, misalnya nama seperti Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa atau Sandiaga Uno, Menparekraf yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.
Namun, dari tiga partai bakal terbentuknya Koalisi Perubahan itu, PKS tampaknya punya sikap lebih adaptif dibandingkan Nasdem dan Demokrat. Dengan kata lain, sejauh nama cawapres dipilih dan ditentukan oleh Anies sendiri, PKS akan menerimanya, termasuk jika akhirnya AHY yang terpilih.
Di sisi lain, Anies sendiri tentu akan melakukan pertimbangan dan kalkulasi lebih njlimet terkait dengan perkembangan dinamika pencapresan di luar Koalisi Perubahan, misalnya mencuatnya wacana menduetkan Menhan Prabowo Subianto-Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Konstelasi Baru
Dinamika itu tentu menghadirkan konstelasi baru yang membutuhkan penyikapan dinamis. Bukan apa-apa. Ada anggapan di kalangan sebagian analis politik bahwa sosok cawapres dalam Pilpres 2024 akan sangat mempengaruhi naik-turunnya elektabilitas pasangan capres-cawapres. Dengannya, salah memilih sosok cawapres bakal berisiko mereduksi peluang untuk meraih kemenangan.
Jika pada akhirnya koalisi partai pendukung pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin kembali bersatu dengan mengusung duet Prabowo-Ganjar atau Ganjar-Prabowo, tentu Koalisi Perubahan dan Anies mesti menggandeng sosok cawapres yang punya nilai tambah luar biasa.
Wajar jika ada yang bilang bahwa penentuan nama cawapres pendamping Anies pun bakal dilakukan setelah PDIP bersama partai-partai pendukung pemerintah memperlihatkan sinyal lebih jelas tentang siapa sosok capres-cawapres yang bakal diusung.
Pertanyaannya, jika penentuan sosok cawapres pendamping Anies menunggu sosok capres yang akan diusung PDIP dan atau koalisi partai pemerintah, maka kemungkinan besar deklarasi Koalisi Perubahan juga akan molor.

