JAKARTA (Sketsa.co) —Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah resmi mendaklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden untuk diusung pada Pilpres 2024.
Tentu saja tak ada yang mengejutkan dari hajatan seremonial pendeklarasian di Kantor DPP PKS, Jakarta, Kamis (23/2/2023) tersebut. Sejak awal memang banyak pihak meyakini PKS akan mengusung mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sebagai capres.
Dengan demikian, tinggal menyisakan Partai Demokrat yang belum mendeklarasikan dukungan resminya kepada Anies Baswedan sebagai capres melalui sebuah acara seremonial meski telah menyatakan mendukung secara resmi pencapresan Anies melalui pernyataan tertulis yang dikirimkan ke media beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, Partai Nasdem selaku inisiator Koalisi Perubahan, telah terlebih dulu mendeklarasikan pencapresan Anies pada 3 Oktober 2022, beberapa pekan menjelang Anies menyelesaikan jabatan penuh lima tahun sebagai Gubernur DKI.
Kalau tak ada perubahan sikap, rasanya Anies sudah boleh memantapkan diri sebagai kandidat capres yang telah memegang tiket untuk bisa ikut berlaga di Pilpres 2024.
Baca juga: Menyoal Penurunan Elektabiltas Anies Baswedan
Gabungan jumlah kursi DPR RI ketiga partai tersebut (Nasdem, Demokrat dan PKS) telah melampaui syarat presidential threshold 20%, sehingga bisa mengantarkan Anies untuk mendaftar sebagai capres di Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada bulan Oktober-November mendatang.
Tentu, persoalan yang tersisa lagi-lagi masalah siapa sosok cawapres yang akan mendampingi Anies?
Cepat atau lambat, masalah penentuan sosok cawapres ini akan turut menentukan gerak-langkah dan kesolidan koalisi untuk merancang strategi kampanye dan pemenangan di pilpres.
Sosok Cawapres
Pertanyaan yang mendasar: apakah ketiga partai bisa dijamin akan menerima sosok yang bakal dipilih Anies sebagai cawapres pendampingnya?
Terkhusus untuk Partai Demokrat yang tampak sangat menginginkan agar sang ketua umum, yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), didapuk sebagai cawapres pendamping Anies. Adakah Demokrat bisa menerima dengan legowo seandainya sang kandidat capres memilih nama kandidat cawapres selain AHY?
Atau, sebaliknya, akankah Demokrat membatalkan rencana berkoalisi dengan Nasdem dan PKS untuk mengusung Anies jika AHY tak jadi cawapres?
Satu hal, Nasdem dan PKS tampaknya tak akan keberatan seandainya Anies memilih sosok tertentu sebagai cawapresnya, entah itu AHY atau nama lainnya.
Benarkah langkah Demokrat yang belum juga mendeklarasikan dukungan resminya untuk pencapresan Anies terkait dengan belum jelasnya sosok yang bakal dipilih Anies sebagai cawapres?

