JAKARTA (Sketsa.co) — Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan pasangan capres-cawapres yang diusung PDIP bisa kalah di pilpres mendatang jika partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu tidak berkoalisi dengan partai lain.
SMRC mendasarkan prediksi tersebut pada hasil simulasi tertutup dengan asumsi empat pasangan yang diusung dari koalisi partai terbentuk sementara ini, yakni PKB dan Partai Gerindra, Koalisi Perubahan (Partai Nasdem, Partai Demokrat dan PKS), PDIP tanpa koalisi, serta Koalisi Indonesia Bersatu/KIB (Partai Golkar, PPP dan PAN).
Seperti diketahui, PDIP menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung capres-cawapres tanpa harus berkoalisi dengan partai lain.
Simulasi SMRC itu mengambil asumsi bahwa Koalisi PKB-Gerindra mengusung Prabowo Subianto-Muhaimin Iskandar, Kolaisi Perubahan usung Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), PDIP usung Ganjar Pranowo-Puan Maharani, dan KIB usung Airlangga Hartarto-Erick Thohir.
Survei yang dilakukan Desember 2022 lalu itu mengajukan pertanyaan: Bila pemilihan pasangan Presiden-Wakil Presiden diadakan sekarang ini, siapa yang akan Ibu/Bapak pilih sebagai pasangan Presiden-Wakil Presiden di antara pasangan berikut?
Hasilnya, Prabowo-Muhaimin meraih 29,7%, Anies-AHY 28,8%, Ganjar-Puan 21,6%, dan Airlangga-Erick 4,9%, dan Tidak tahu/tidak jawab: 15%.
“Ganjar cukup kompetitif jika dipasangkan dengan calon selain Puan. Tapi, ketika dipasangkan dengan Puan, posisi Ganjar di bawah dua nama yang selama ini kompetitif dengan dia, yaitu Prabowo dan Anies,” ungkap Saiful Mujani, pendiri SMRC, dalam keterangan tertulis, Jumat (10/2/2023).
Menurut dia, kalau PDIP tidak berkoalisi dengan partai lain dan tidak mengajak tokoh lain, PDIP akan tersingkir, walaupun Ganjar diposisikan sebagai capres.
Hasil serupa juga bakal terjadi jika Ganjar menjadi cawapres Puan. Menurut Saiful, suara pasangan Puan-Ganjar bahkan terjun bebas dari simulasi sebelumnya.
Dilema PDIP
Jika hasil simulasi SMRC tersebut menjadi salah satu masukan yang dipertimbangkan PDIP dalam penentuan bakal capres-cawapres, maka partai ini tentu menghadapi dilema pelik. Betapa tidak? Terlihat sekali bahwa nama Puan tak cukup punya daya saing untuk gelaran pilpres, baik sebagai kandidat capres maupun cawapres.
Sedangkan nama Ganjar jelas tampak memiliki daya saing besar dan memiliki nilai jual begitu tinggi. Istilahnya dalam dunia pemasaran, nama Ganjar marketable! Sangat menjual…
Padahal jelas bahwa di internal PDIP, daya saing Puan begitu kuat bukan hanya karena dia adalah anak Megawati Soekarnoputri sebagai pimpinan puncak partai banteng. Namun, lebih-lebih, Puan juga salah satu Ketua DPP PDIP yang saat ini menjabat Ketua DPR RI.
Kualifikasi personal Puan, dalam beberapa sisi, jelas tampak lebih meyakinkan dibandingkan Ganjar yang saat ini “cuma” Gubernur Jawa Tengah yang diragukan prestasinya oleh sebagian pihak.
Ganjar kerap disindir bahwa elektabilitasnya yang tinggi sebagai kandidat capres tak lebih merupakan hasil karya kecanggihan timnya melakukan pencitraan lewat media sosial, bukan ditopang prestasi nyata di lapangan.
Namun, apa boleh buat, dalam sistem pemilihan langsung oleh rakyat, elektabilitas itu menjadi petunjuk paling meyakinkan untuk memprediksi hasil akhir pemilu, termasuk pilpres. Dan pada titik ini, fakta tak terbantahkan bahwa elektabilitas Ganjar makin kokoh dan perkasa menurut hasil sigi sejumlah lembaga survei.

