Sketsa.co
  • News
  • Ekonomi Bisnis
  • Historia
  • Lowongan Kerja
  • Event
  • Finansial
  • Internasional
  • Obituari
  • Opini
Reading: Nasdem, Partai Pendukung Jokowi Tapi Beraroma “Oposisi”
Share
Aa
Aa
Sketsa.co
  • Home
  • News
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
Search
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Tech News
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2023 Raka. All Rights Reserved.
Home » Blog » Nasdem, Partai Pendukung Jokowi Tapi Beraroma “Oposisi”
Politik

Nasdem, Partai Pendukung Jokowi Tapi Beraroma “Oposisi”

Aroma oposisi yang mewarnai Nasdem makin menjadi-jadi saat partai pimpinan Surya Paloh itu intens menggalang kerjasama dengan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk gawe besar mengusung pencapresan Anies, mantan Gubernur DKI Jakarta.

Last updated: Kamis, 2 Februari 2023, 9:57 AM
By Raden Parwoto
Share
4 Min Read
Foto: dok. setkab.go.id
SHARE

JAKARTA (Sketsa.co)—Tak bisa dielakkan lagi kesan bahwa Nasdem adalah partai pendukung pemerintahan Jokowi tapi beraroma “oposisi”.  Kesan itu muncul dan menguat sejak Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai bakal calon presiden pada 3 Oktober 2022.

Aroma oposisi yang mewarnai Nasdem makin menjadi-jadi saat partai pimpinan Surya Paloh itu intens menggalang kerjasama dengan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk gawe besar mengusung pencapresan Anies, mantan Gubernur DKI Jakarta.

Bukankah Demokrat dan PKS adalah partai oposisi, kenapa Nasdem yang notabene anggota koalisi pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin justru merajut koalisi dengan mereka?

Lebih-lebih, yang diusung sebagai kandidat capres adalah Anies Baswedan, yang dalam bahasa Zulfan Lindan merupakan  “antitesa” Jokowi. Anies saat memimpin Ibu Kota memang kerap mengambil kebijakan berseberangan dengan Jokowi saat jadi Gubernur DKI, misalnya dalam soal penanganan banjir.

Jokowi yang kemudian diteruskan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menggencarkan program “normalisasi” sungai, sedangkan Anies menggantinya dengan “naturalisasi” sungai. Contoh lain, untuk mengatasi kelangkaan hunian layak bagi warga lapis bawah, Jokowi-Ahok gencar membangun rusunawa, Anies menggantinya dengan program rumah DP Nol Rupiah.

Kesan yang muncul saat itu Anies sekadar ingin tampil “beda” dengan Jokowi-Ahok. Anies sudah barang tentu punya “luka politik” dengan Jokowi tatkala sekonyong-konyong dicopot dari posisi Menteri Pendidikan di periode pertama kepresidenan mantan Wali Kota Solo itu. Padahal, Anies adalah jubir tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla saat Pilpres 2014.

Renggang

Alhasil, sejak Nasdem mencapreskan Anies dan aktif menjalin relasi dengan Demokrat dan PKS, hubungan partai ini dengan partai koalisi pendukung pemerintahan Jokowi lainnya, terutama PDIP, menjadi renggang.

Imbasnya, relasi Surya Paloh dengan Jokowi pun turut renggang. Bahkan, saat Nasdem berulangtahun ke-11 pada 11 November 2022, Jokowi tidak hadir, bahkan sekadar kirim ucapan selamat melalui video pun tidak. Padahal, di ultah ke-8 Partai Perindo (partai nonparlemen) pada 7 November 2022 Jokowi hadir memberi sambutan.

Nah, yang lebih personal, saat Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, melakukan rangkaian hajatan pernikahan di Yogya dan Solo pada 10-11 Desember 2022, Surya Paloh yang turut diundang juga tidak hadir.

Alhasil, kesan bahwa hubungan Surya Paloh dan Jokowi memburuk tak terhindarkan. Di tengah-tengah relasi personal yang renggang itu, PDIP melalui politisinya, Djarot Saiful Hidayat, sekonyong-konyong mendesakkan agar Presiden Jokowi mengevaluasi dua dari tiga menteri asal Nasdem, yakni Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo serta Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Sampai akhirnya tibalah momen pertemuan Surya Paloh dengan Jokowi di Istana pada Kamis, 26 Januari 2023. Pertemuan empat mata selama lebih dari satu jam itu diakhiri dengan Jokowi mengantarkan Surya Paloh sampai ke mobil yang membawanya meninggalkan Istana.

Sejak pertemuan itu, hubungan keduanya tampak kembali cair. Surya Paloh menegaskan komitmen Nasdem dukung Jokowi hingga menyelesaikan masa jabatan 2024, dan menyerahkan urusan reshuffle kabinet kepada Jokowi.

Namun, kesan bahwa Nasdem partai koalisi pendukung Jokowi bercitarasa oposisi tak bisa ditepis begitu saja, apalagi ke depan partai ini hampir bisa dipastikan akan lebih intens menjalin kerjasama dengan Demokrat dan PKS dalam Koalisi Perubahan untuk mengusung pencapresan Anies Baswedan.

 

 

 

 

 

 

 

You Might Also Like

Peluang Prabowo di Pilpres 2029 jika Tanpa Gibran Cawapres

Membaca Ketegangan Naratif Kubu Pro Prabowo Vs Kubu Pro Jokowi

Tafsir Atas Teriakan Lantang Jokowi, “Saya Masih Sanggup…”

Isu Ijazah Palsu Jokowi dan Spekulasi Pilpres 2029

TAGGED: . Demokrat, Anies Baswedan, Jokowi, koalisi pendukung pemerintahan Jokowi-Maruf Amin, Partai NasDem, PDIP, PKS
Raden Parwoto 2 Februari 2023
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Pertemuan Surya Paloh-Airlangga Hartarto Kirim “Kode Keras” ke PDIP?
Next Article Pariwisata Bali Makin Menggeliat
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Articles

Latest News

Pindah KTP Antar-Provinsi Sekarang Lebih Gampang
Syarat Pelamar Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Buka 30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Status Pegawai BUMN
Selamat Datang “Ijazah Blockchain”
Apa Kabar Industri Kripto Iran
SuarNews.com
- Advertisement -
Sketsa.co
Follow US

© 2022 Raka Design Company. All Rights Reserved.

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?