JAKARTA: Peramban Chrome milik Google tengah berada di bawah ancaman pemisahan akibat kasus monopoli yang menjerat raksasa teknologi asal California ini. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ) memenangkan gugatan antitrust terhadap Google pada 2023, dengan pengadilan menyatakan bahwa Google secara ilegal memonopoli pasar pencarian online. Kini, sanksi final diperkirakan akan dijatuhkan pada Agustus 2025, dengan kemungkinan Chrome harus dijual ke pihak lain.
Beberapa perusahaan besar sudah mengungkapkan ketertarikannya untuk membeli Chrome jika Google benar-benar dipaksa melepasnya. Setelah OpenAI lebih dulu menyatakan minat, kini giliran Perplexity dan Yahoo yang turut menyatakan kesiapan.
Dalam sidang anti-monopoli baru-baru ini, Chief Business Officer Perplexity, Dmitry Shevelenko, dan General Manager Yahoo Search, Brian Provost, hadir untuk memberikan kesaksian. Shevelenko menyebut Perplexity siap mengambil alih Chrome jika dibutuhkan, meskipun ia mengaku lebih memilih Chrome tetap berada di tangan Google. Kekhawatirannya, perubahan kepemilikan bisa berisiko terhadap kualitas dan sifat open source dari Chromium.
Shevelenko juga mengungkapkan tantangan yang dihadapi Perplexity dalam bersaing dengan dominasi Google, terutama di perangkat Android. Ia menggambarkan proses mengganti Google Assistant dengan Perplexity sebagai “jungle gym” yang rumit. Bahkan setelah berhasil menjadi default, Perplexity tetap kalah praktis dibanding Google Assistant, karena pengguna harus menekan tombol alih-alih menggunakan perintah suara.
Selain itu, Shevelenko menuding Google menekan mitra manufaktur ponsel agar enggan bermitra dengan Perplexity, lantaran khawatir kehilangan pembagian pendapatan dari Google.
Di sisi lain, Yahoo juga mengungkapkan kesiapannya untuk membeli Chrome. Brian Provost mengatakan Yahoo, yang kini dimiliki Apollo Global Management, melihat Chrome sebagai “pemain strategis terpenting di web”, dengan nilai potensi akuisisi mencapai puluhan miliar dolar. Sejak diakuisisi Apollo pada 2021, Yahoo memang tengah berupaya membangun kembali bisnis pencariannya, termasuk mengembangkan browser sendiri.
Sementara itu, OpenAI, pengembang ChatGPT, juga serius ingin membeli Chrome. Nick Turley, Kepala ChatGPT, mengungkapkan bahwa dengan mengakuisisi Chrome, OpenAI bisa menawarkan pengalaman browser berbasis AI sepenuhnya. Turley juga menyebut bahwa Google pernah menolak permintaan OpenAI untuk mengakses data pencarian real-time, yang dinilai menghambat pengembangan SearchGPT mereka.
Turley menambahkan bahwa kekuatan finansial Google, termasuk kesepakatan dengan Samsung dan Apple, memperkuat dominasi mereka di pasar, sehingga mempersempit ruang inovasi untuk pesaing.
Departemen Kehakiman AS berharap bahwa pemisahan Chrome dan penghentian kontrak eksklusif Google dengan produsen perangkat akan menciptakan pasar yang lebih terbuka dan kompetitif. Langkah-langkah seperti mewajibkan lisensi data pencarian kepada kompetitor juga diusulkan untuk membatasi dominasi Google.
Di sisi lain, Google memperingatkan bahwa sanksi semacam itu bisa merugikan konsumen dan melemahkan inovasi teknologi AS secara global. Keputusan akhir pengadilan terkait nasib Chrome dan sanksi terhadap Google dijadwalkan diumumkan pada Agustus 2025.

