Sketsa.co
  • News
  • Ekonomi Bisnis
  • Historia
  • Lowongan Kerja
  • Event
  • Finansial
  • Internasional
  • Obituari
  • Opini
Reading: Terungkap Mega-Tsunami Greenland 2023 sebagai Dampak Krisis Iklim Global
Share
Aa
Aa
Sketsa.co
  • Home
  • News
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
Search
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Tech News
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2023 Raka. All Rights Reserved.
Home » Blog » Terungkap Mega-Tsunami Greenland 2023 sebagai Dampak Krisis Iklim Global
InternasionalNews

Terungkap Mega-Tsunami Greenland 2023 sebagai Dampak Krisis Iklim Global

Last updated: Selasa, 3 Desember 2024, 12:22 PM
By Sri Rejeki Handayani
Share
3 Min Read
SHARE

JAKARTA: Pada September 2023, dunia dikejutkan oleh mega-tsunami di Greenland yang memicu gelombang seismik hingga terasa di seluruh dunia. Kejadian luar biasa ini bermula dari tanah longsor besar di Dickson Fjord, King Christian X Land, Greenland Timur, pada 16 September 2023. Longsor tersebut dipicu oleh mencairnya gletser akibat krisis iklim, sebagaimana dilaporkan oleh Scitech Daily pada 10 September 2024.

Gletser yang mencair dan menipis membuat struktur gunung setinggi 4.000 kaki menjadi tidak stabil hingga akhirnya runtuh. Material longsoran jatuh ke air, menciptakan mega-tsunami dengan ketinggian lebih dari 200 meter. Gelombang raksasa yang terperangkap di Dickson Fjord ini tidak hanya menghancurkan area lokal, tetapi juga menghasilkan gelombang seismik yang menjalar ke seluruh dunia selama sembilan hari.

Gelombang Seismik

Peneliti dari GFZ German Research Centre for Geoscience, Angela Carrillo-Ponce, bersama timnya mendeteksi dua jenis sinyal seismik dari peristiwa ini. Sinyal pertama adalah gelombang berenergi tinggi yang dihasilkan oleh longsoran besar, sementara sinyal kedua adalah gelombang dengan periode sangat panjang (Very Long Period, VLP) yang bertahan selama lebih dari seminggu. Sinyal VLP ini mencerminkan fenomena seiche, yaitu gelombang yang berosilasi di perairan dalam jangka waktu lama.

Carrillo-Ponce menjelaskan bahwa gelombang seismik tersebut memberikan wawasan penting tentang proses yang terjadi dan potensi pemantauan kejadian serupa di masa depan. Menurutnya, tanpa analisis seismik, fenomena seiche yang dihasilkan dalam fyord Greenland mungkin tidak akan terdeteksi.

Dilansir dari The Guardian, gelombang tsunami ini menghancurkan situs Inuit berusia 200 tahun yang tak berpenghuni dan sejumlah bangunan di stasiun penelitian Pulau Ella, sekitar 70 kilometer dari lokasi longsor. Peristiwa ini menjadi bukti bahwa mega-tsunami serupa belum pernah terjadi selama setidaknya dua abad terakhir.

Dr. Stephen Hicks dari University College London mengaku terkejut dengan data seismik yang menunjukkan gelombang berosilasi tunggal selama lebih dari seminggu. Fenomena ini sangat berbeda dari gempa bumi yang biasanya menampilkan gemuruh multifrekuensi.

Sebanyak 68 ilmuwan dari 40 institusi di 15 negara bergabung untuk menyelidiki fenomena ini. Dengan menggunakan data seismik, citra satelit, simulasi komputer, dan pengukuran lapangan, mereka menemukan bahwa sekitar 25 juta meter kubik batu dan es jatuh ke Dickson Fjord, menyebabkan gelombang bergerak sejauh 2.200 meter.

Anne Mangeney dari Institut de Physique du Globe de Paris menyebut tsunami ini sebagai tantangan terhadap model tsunami klasik yang hanya mensimulasikan perambatan gelombang selama beberapa jam. Ia menambahkan bahwa peristiwa semacam ini akan menjadi lebih sering akibat kenaikan suhu global.

Bukti Krisis Iklim Global

Mega-tsunami ini menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim yang langsung memengaruhi dinamika bumi secara global. Mangeney menyebutkan bahwa getaran akibat tsunami ini menjalar dari Greenland ke Antarktika dalam waktu kurang dari satu jam, menunjukkan seberapa cepat perubahan lokal dapat berdampak secara global.

Peristiwa ini juga menggarisbawahi pengaruh manusia terhadap Bumi, termasuk perubahan panjang hari dan pergeseran kutub magnetik, yang semakin memperjelas pentingnya langkah mitigasi untuk menghadapi krisis iklim.

You Might Also Like

Apa Kabar Industri Kripto Iran

Di Tengah Lonjakan Harga BBM, PM Thailand Pilih Pakai Mobil Listrik BYD

Pink Moon Bakal Menghiasi Langit Indonesia pada 2 April 2026

Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem Siklon Narelle

TAGGED: Greenland, krisis iklim, mega-tsunami, pemanasan global, tsunami Greenland 2023
Sri Rejeki Handayani 3 Desember 2024
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Kapolrestabes Semarang Minta Maaf atas Insiden Penembakan Gamma: Siap Bertanggung Jawab dan Dievaluasi
Next Article Apakah Anda Penerima Bansos ? Cek Rincian Berikut Ini
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Articles

Latest News

Pindah KTP Antar-Provinsi Sekarang Lebih Gampang
Syarat Pelamar Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Buka 30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Status Pegawai BUMN
Selamat Datang “Ijazah Blockchain”
Apa Kabar Industri Kripto Iran
SuarNews.com
- Advertisement -
Sketsa.co
Follow US

© 2022 Raka Design Company. All Rights Reserved.

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?