JAKARTA: Akun chatbot Grok buatan perusahaan xAI milik Elon Musk kini tengah menjadi fenomena unik di jagat media sosial X (sebelumnya Twitter). Alih-alih digunakan sekadar sebagai asisten kecerdasan buatan (AI), Grok justru menjelma menjadi tempat warganet melemparkan pertanyaan, sindiran, bahkan kritik sosial yang dibalut humor sarkastik.
Sejak dirilis ke publik pada 2024, Grok dengan cepat mendapat tempat di hati pengguna X. Warganet Indonesia maupun Amerika Serikat kerap menyebut akun @grok dalam cuitan mereka, meminta “penjelasan” soal isu-isu panas mulai dari politik hingga budaya pop. Tak jarang, permintaan itu disampaikan dengan gaya kocak, nyeleneh, bahkan tajam.
Grok dapat diakses secara gratis maupun berbayar. Versi gratisnya memungkinkan pengguna mengirim 10 perintah setiap 2 jam dan membuat 3 gambar per hari. Untuk akses lebih luas, tersedia paket berlangganan, bahkan opsi “SuperGrok” seharga 30 dolar AS per bulan.
Lantas, apa sebenarnya Grok itu?
Grok adalah fitur chatbot berbasis AI yang dikembangkan xAI, perusahaan Elon Musk. Chatbot ini memanfaatkan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) bernama Grok, yang disebut terinspirasi dari novel The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy serta karakter AI “JARVIS” dari film Iron Man. Kombinasi tersebut membuat Grok dikenal memiliki jawaban yang humoris, cerdas, dan penuh sindiran.
Sejak awal peluncurannya, Grok mengalami beberapa peningkatan. Dari Grok-1, lalu Grok-2, dan kini Grok-3 yang diklaim jauh lebih canggih. Grok-3 disebut mampu menangani persoalan kompleks seperti matematika dan sains dengan akurasi tinggi. Ia juga dilatih menggunakan 200.000 unit GPU di pusat data xAI di Memphis, Tennessee, AS, menjadikannya memiliki kecepatan komputasi 10 kali lipat lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya.
Tak hanya itu, Elon Musk mengklaim Grok-3 mengungguli beberapa AI terkemuka lain seperti Gemini milik Google, GPT-4o dari OpenAI, hingga Claude 3.5 dari Anthropic.
Namun, di luar kemampuan teknisnya, daya tarik utama Grok terletak pada peran barunya di dunia maya: sebagai “alter ego digital” warganet. Banyak pengguna media sosial kini memanggil Grok dengan format lucu seperti:
“@grok, tolong jelaskan dalam konteks politik, mengapa…”
“@grok, marahin akun ini dong, bebas mau pakai bahasa apa”
“@grok, tolong roasting (nama tokoh)”
Menurut Business Insider, fenomena ini menunjukkan bahwa Grok telah melampaui fungsinya sebagai chatbot. Ia kini menjadi “perwakilan” suara hati warganet — berbicara lebih pedas, lebih berani, dan tentunya lebih menghibur.
Pantauan KompasTekno juga menemukan banyak pengguna yang setelah dibalas Grok dengan sindiran tajam, justru menambahkan, “bukan gue yang ngomong,” seolah melempar tanggung jawab ke chatbot tersebut.
Fenomena Grok ini menunjukkan betapa media sosial selalu menemukan cara baru untuk berekspresi. Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan sosial, mungkin kita memang butuh “alter ego digital” yang bisa bersuara lebih lantang — dan lebih lucu.

