JAKARTA (Sketsa.co) — Selama 5 tahun ke depan, China berencana melatih 5.000 personel keamanan dari negara-negara berkembang dalam sebuah langkah yang diharapkan meningkatkan pengaruh keamanan global Negeri Tirai Bambu itu.
Di bawah inisiatif yang baru diluncurkan, Beijing akan membangun platform internasional untuk mengatasi terorisme, keamanan dunia maya, keamanan hayati, dan teknologi baru.
Rencana tersebut, yang tertuang dalam sebuah makalah tentang Inisiatif Keamanan Global Beijing (GSI) yang diterbitkan pada hari Selasa lalu, muncul pada saat yang sensitif karena jejak keamanan luar negeri China telah mengkhawatirkan para pesaingnya, tulis scmp.com (25/2/2023).
Alternatif Barat
Prakarsa tersebut dilihat sebagai alternatif dari tatanan keamanan yang dipimpin Barat, yang kali pertama diusulkan oleh Presiden Xi Jinping selama konferensi tahunan Boao Forum for Asia pada April lalu.
Menurut makalah GSI, Beijing berencana menciptakan lebih banyak platform internasional untuk pertukaran dan kerja sama guna mengatasi tantangan keamanan di berbagai bidang seperti kontraterorisme, keamanan dunia maya, keamanan hayati, dan teknologi baru, dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas tata kelola dalam keamanan nontradisional.
China juga akan mendorong lebih banyak pertukaran dan kerja sama di antara akademi militer dan kepolisian tingkat universitas.
Baca juga: China Ingin Perang di Ukraina Segera Berakhir, Tapi Barat Ingin Kalahkan Rusia
Li Wei, seorang ahli anti-terorisme di China Institutes of Contemporary International Relations (CICIR), mengatakan rencana pelatihan dan pertukaran di bidang keamanan nontradisional, khususnya anti-terorisme, menunjukkan bahwa Beijing merasa bertanggung jawab untuk mengatasi tantangan keamanan global.
“(China) dulu melatih petugas dan pejabat polisi anti-terorisme di negara-negara seperti Afghanistan dan Pakistan, dan sekarang akan memperluas cakupan kerja sama ini. Pelatihan dan pertukaran bertujuan untuk memperkuat efisiensi dalam kerjasama bilateral dan multilateral, seperti di bidang anti-terorisme,” kata Li.
September lalu, Presiden China Xi Jinping mengumumkan bahwa China akan melatih 2.000 personel penegak hukum dari negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) selama lima tahun ke depan dan mendirikan basis pelatihan yang berfokus pada anti-terorisme. Xi membuat komentar tersebut pada pertemuan puncak kelompok keamanan yang dipimpin oleh China dan Rusia.
Pada Desember, China menawarkan untuk melatih 1.500 polisi dan petugas keamanan siber dari negara-negara Arab.
Sejak Januari 2022, Beijing telah membantu melatih polisi di Kepulauan Solomon untuk meningkatkan “kemampuan anti huru-hara” mereka.

