JAKARTA (Sketsa.co) — Berhentilah menjadi pelit, tetaplah menjadi hemat! Demikian kalimat bijak yang sering kita dengar dan baca.
Pelit dan hemat jelas dua kata yang berbeda makna atau pengertian, bahkan sebenarnya bertentangan satu sama lain.
Namun, tak sedikit orang yang mengira apa yang dilakukannya selama ini adalah sikap hemat, padahal sesungguhnya sikap pelit.
Pelit dan hemat secara hakiki menunjukkan kualitas seseorang terkait dengan kebiasaan belanja dan mengeluarkan uang.
Orang yang hemat akan memprioritaskan pengeluarannya untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. Nah, sikap hemat tersebut akan berubah menjadi pelit ketika kita selalu mencari cara untuk membelanjakan sesedikit mungkin uang.
Meskipun sama-sama suka menghemat uang, tetapi terkadang orang yang pelit juga berarti mereka lebih suka mendapatkan keuntungan dengan mengorbankan orang lain.
Jika kita melakukan perencanaan matang sebelum membelanjakan atau mengeluarkan uang, itu namanya sikap hemat. Kita ingin memastikan duit yang kita belanjakan mendapatkan barang atau jasa seperti yang kita harapkan.
Sebaliknya, sikap pelit adalah ketika kita berupaya melakukan apa saja untuk membelanjakan sesedikit mungkin uang yang kita miliki, bahkan terkadang sampai tega mengorbankan atau merugikan orang lain untuk keuntungan diri kita. Demikian kata Julia Yacoob, ahli psikologi klinik dari New York, AS.
Josh Elledge, salah satu eksekutif di situs kupon dan tabungan SavingsAngel.com punya pernyataan yang lebih sederhana untuk menggambarkan sikap pelit.
“Jika Anda ingin merasa lebih miskin dari kondisi yang sebenarnya, jadilah pelit,” kata Elledge.
Baca juga: Ini Cara Download Lagu MP3 MP4 dari Youtube dengan Menggunakan YTMP3 dan MP3 Juices
Ellege memberi contoh ilustrasi yang memperlihatkan perbedaan mendasar antara sikap pelit dan hemat dalam kehidupan sehari-hari. Kadang perbedaan antara sikap pelit dan hemat itu begitu tipis, sehingga kita kerap melakukan tindakan yang secara substansial pelit, namun kita merasakannya sebagai sedang berhemat.
Misalnya, aturan bioskop dengan jelas menyatakan tidak boleh membawa makanan dari luar, namun Anda tetap menyelinapkan sebotol air mineral dan sekotak camilan.
Atau, Anda mengundang diri Anda sendiri untuk datang ke resepsi pernikahan meskipun Anda tidak mengenal sang calon pengantin. Dan Anda menyantap hidangan prasmanan serasa tamu undangan.
Atau, Anda mengatakan anak Anda yang berusia enam tahun dengan memanipulasi berusia lima tahun sehingga Anda mendapatkan potongan harga pembelian tiket pesawat.
Apakah Anda akan masuk penjara karena melanggar aturan yang diucapkan dan tidak diucapkan ini? Mungkin tidak. Namun satu hal jelas, Anda bukan sedang berhemat. Anda memang sedang mempertontonkan diri sebagai pribadi yang pelit.
Menumpuk Barang
Kebiasaan menumpuk atau minimbun barang yang nilai fungsinya sebenarnya sudah menurun jauh, padahal Anda punya kemampuan untuk menggantinya dengan barang baru dan memiliki fungsi lebih maksimal.
Mungkin dengan tetap memakai barang lama yang fungsinya sudah jauh menurun itu Anda berpikir tengah melakukan penghematan. Namun, itu seketika mencerminkan Anda sebagai sosok pelit saat sebenarnya Anda punya kemampuan finansial untuk mengganti barang-barang lama itu dengan yang baru dan memiliki fungsi lebih maksimal.
Contoh lain, Anda rela antre bersama banyak pasien tidak mampu lainnya untuk perawatan jantung Anda di RS yang fasilitasnya terbatas dan sederhana saat sebenarnya Anda punya kemampuan berlebih untuk mendapatkan layanan serupa yang lebih maksimal di RS mahal.
Jika Anda bahkan enggan mengeluarkan harta Anda demi perawatan tubuh Anda sendiri, tak ada kalimat lain untuk menggambarkan sikap Anda selain: Anda pribadi yang super pelit!
Berhentilah menjadi pelit. Tetaplah menjadi hemat!
sumber: http://www.differencebetween.net

