JAKARTA: Pengurangan kuota pembelian susu sapi oleh industri pengolahan susu (IPS) menyebabkan aksi pembuangan susu di Boyolali. Susu yang tidak dibeli IPS tak lagi bisa ditampung di mesin pendingin milik pengepul setempat. Namun, beberapa pengepul, seperti UD Pramono dan KUD Musuk, masih mampu bertahan.
UD Pramono, meskipun menghadapi kendala karena rekeningnya diblokir akibat masalah pajak, tetap beroperasi. Mereka menyerap susu dari sekitar 1.300 peternak di Boyolali dan Klaten, yang kemudian dikirimkan ke Indolakto dan Cimory. Sementara itu, KUD Musuk menyuplai susu ke perusahaan lain seperti Soo Good, Garuda, dan Diamond.
Sebaliknya, pengepul yang memasok ke NSP Pasuruan mengalami penurunan kuota yang signifikan, menimbulkan keresahan di antara para peternak. Sebagai bentuk protes, peternak terpaksa membuang susu sapi mereka. “Kami membuang sekitar 50 ton susu dalam sehari, kerugian ini mencapai Rp 400 juta,” ungkap Sriyono, pengurus KUD Mojosongo. Ia menduga tingginya impor susu menjadi penyebab utama masalah ini.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali Lusia Diah Suciati menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk mencari solusi.
“Kami sudah menyampaikan aspirasi pengepul ke pemerintah pusat. Namun, penyelesaian masalah ini membutuhkan waktu,” jelasnya.

