JAKARTA (Sketsa.co) — Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menganggap peringkat elektabilitas hasil survei terhadap bakal calon presiden (capres) tidak sepenuhnya mencerminkan hasil Pilpres 2024. Hasil survei tersebut hanya mencerminkan tren dinamika yang sedang berkembang.
Menurut JK, pilihan dari 1.200 orang (responden survei) tidak bisa mewakili pendapat dari 205 juta pemilih secara akurat. Hasil survei hanya mencerminkan tren yang sedang berlangsung.
JK juga membandingkan elektabilitas Anies Baswedan dengan Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, saat mencalonkan diri pada Pemilihan Presiden AS 2016. Meskipun elektabilitas Trump rendah menurut survei, dia akhirnya terpilih menjadi presiden.
JK juga mengingatkan bahwa sebelumnya elektabilitas Anies Baswedan juga pernah rendah saat Pilkada DKI Jakarta 2017. Namun, Anies berhasil keluar sebagai pemenang.
Pada hasil survei terbaru dari Utting Research, Australia, yang dirilis Jumat (28/7), Anies Baswedan menempati posisi ketiga dengan suara 27%, dibandingkan dengan Ganjar Pranowo yang mendapatkan 34% dan Prabowo Subianto dengan 33%.
Survei ini dilakukan secara tatap muka pada 12-17 Juni 2023 dengan sampel responden sebanyak 1.200 orang yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Metode survei menggunakan multi stage random sampling dengan margin of error sebesar 2,8% dan tingkat kepercayaan 95%.
Dalam sejumlah hasil survei elektabilitas kandidat capres yang dilakukan berbagai lembaga jajak pendapat di Tanah Air beberapa bulan terakhir, Anies nyaris selalu menempati peringkat ketiga di belakang Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.
Dua Faktor
Ada dua faktor yang disebut-sebut menjadi biang keladi posisi Anies tak mengalami perbaikan elektabilitas sejak dideklarasikan sebagai bakal capres oleh Partai Nasdem pada 3 Oktober 2022.
Pertama, Anies dianggap dan dicitrakan sebagai antitesa Jokowi. Di tengah tingkat kepercayaan publik (approval rating) yang tinggi terhadap kinerja Presiden Jokowi, stempel antitesa atas diri Anies dinilai menjadi faktor yang merugikan. Pendek kata, Anies dianggap melawan arus mayoritas warga yang cenderung menyukai Jokowi.
Kedua, ketidakjelasan figur bakal cawapres pendamping menjadi faktor yang juga melemahkan positioning Anies di mata publik. Ada sinyal ketidakpastian yang memicu spekulasi bahwa di antara tiga partai anggota Koalisi Perubahan untuk Persatuan (Nasdem, Demokrat dan PKS) ada perbedaan tajam dalam soal penentuan figur cawapres.
Baca juga: Head to Head Ganjar Vs Prabowo Kian Tak Terhindarkan
Untuk mengikis persepsi sebagai sosok antitesa Jokowi, belakangan kubu Anies memang tampak berusaha memaknai slogan “perubahan” dengan “perbaikan”, karena perubahan rentan dibenturkan dengan keberlanjutan, sementara perbaikan lebih bermakna menyempurnakan hal-hal yang masih kurang. Perbaikan bukanlah antitesa, tapi sintesa. Kira-kira begitu impresi yang diharapkan terbentuk.
Di sisi lain, untuk mengakhiri spekulasi adanya keretakan di internal KPP, suka tak suka kubu Anies mesti segera mendeklarasikan bakal cawapres definitif. Hal itu akan menyudahi ketidakjelasan dan sekaligus memberi pesan kepada publik bahwa di antara Nasdem, Demokrat dan PKS tetap solid mengusung pencapresan Anies.
Dengan cara begitu, mungkin elektabilitas Anies bisa meningkat dan optimisme JK menemukan penjelasan yang realistis…

