JAKARTA (Sketsa.co) — Sejumlah petinggi Partai Gerindra menyebutkan bahwa Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebagai kandidat calon wakil presiden terkuat yang akan mendampingi bakal capres Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra.
Andre Rosiade, anggota Dewan Pembina Gerindra, menegaskan bahwa kandidat terkuat untuk menjadi cawapres Prabowo adalah Cak Imin. Namun, Andre juga menyatakan bahwa jika Partai Amanat Nasional (PAN) ikut bergabung mendukung Prabowo dalam Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR), pihaknya terbuka untuk kemungkinan lain.
“Saat ini, Prabowo dan Cak Imin memiliki komunikasi yang baik, ada kecocokan dan chemistry di antara mereka, dan saat ini Muhaimin adalah prioritas untuk menjadi wakil presiden kami,” tegasnya.
Pada Minggu (9/7), Prabowo bersama petinggi Gerindra lainnya bertandang ke kediaman dinas Cak Imin selaku Wakil Ketua MPR di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Pertemuan yang berlangsung selama sekitar tiga jam itu diselingi dengan makan siang bersama.
Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), menilai bahwa saat ini Cak Imin memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi cawapres Prabowo mengingat kedua partai (Gerindra dan PKB) telah terikat dalam kerja sama koalisi.
“Jika kita bicara mengenai peluang saat ini, tentu Cak Imin memiliki peluang yang lebih besar, sesuai dengan pernyataan dari Gerindra bahwa Muhaimin, bukan orang lain, adalah kunci dalam pembahasan cawapres Prabowo,” paparnya.
Menurut Adi, prioritas Prabowo saat ini adalah Muhaimin, berdasarkan argumen bahwa PKB telah membuat pakta integritas atau kesepakatan kerja sama dengan Gerindra. Selain itu, dari segi partai, PKB mampu mengkonsolidasi dukungan politik dari kelompok nahdliyin dan memiliki basis di Jawa Timur yang selama ini menjadi kelemahan Prabowo.
Selain itu, Adi menilai PKB menjadi kunci bagi Gerindra saat ini untuk dapat memenuhi ambang batas pencalonan presiden.
“Menurut saya, PKB sangat penting dan dibutuhkan oleh Gerindra, terutama untuk mencapai ambang batas 20%. Jika PKB meninggalkan koalisi, satu-satunya pilihan agar Prabowo dapat maju adalah berkoalisi dengan Golkar, karena Golkar dapat memberikan dukungan yang mencukupi untuk mencapai ambang batas 20%,” tambah Adi.
Baca juga: Saat Semua Bilang “Tegak Lurus ke Jokowi”
Seperti diketahui, PAN juga tampak berminat untuk bergabung dengan KKIR mendukung pencapresan Prabowo Subianto, demikian juga Partai Golkar. Hanya, masalahnya, keduanya mensyaratkan posisi cawapres sebagai kompensasi. PAN mengajukan nama Menteri BUMN Erick Thohir, sedangkan Golkar menyodorkan sang ketum, Airlangga Hartarto.
Di titik itu, PKB terlihat keberatan, karena pihaknya telah sejak dini menjalin kerjasama politik dengan Gerindra untuk menghadapi Pilpres 2024.
“Saya dengar PAN berencana menduetkan Prabowo-Erick. Takjub saya, padahal kan PAN pendatang baru dalam koalisi KIR. Masak pendatang baru kok minta duduk di depan? Ibarat naik busway belakangan, ya cari tempat duduk di belakanglah,” kata Ketua DPP PKB Dita Indah Sari, seusai sosialisasi pencalegan di Surabaya, Selasa (4/7) seperti ditulis detik.com.

