JAKARTA (Sketsa.co) — Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi mengungkapkan bahwa rencana atau keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menduetkan Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2024 makin sulit terealisasi.
Menurut dia, saat pihaknya menggelar acara Musyawarah Rakyat (Musra) bulan lalu, Jokowi masih bilang ingin menggabungkan Prabowo dengan Ganjar, entah dengan skema Ganjar-Prabowo atau Prabowo-Ganjar.
“Terus saya tanya ‘Gimana Pak peluangnya?’, ‘Makin lama kok makin sulit’. Karena elektabilitasnya makin berubah, siapa yang mengalah?” ucap Budi Arie menirukan Jokowi dalam diskusi Adu Perspektif yang diadakan detik.com dan Total Politik, Senin (26/6).
Faktor utama sulitnya menduetkan Prabowo dan Ganjar adalah kendala dari PDIP dan Partai Gerindra, yakni permasalahan siapa capresnya dan cawapresnya.
“Kalau mereka bergabung, pasti PDIP maunya Ganjar-Prabowo, sementara Gerindra maunya Prabowo-Ganjar,” ujarnya.
Beda Tipis
Dalam sejumlah hasil survei yang dinilai cukup kredibel, elektabilitas Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto memperlihatkan perbedaan yang relatif tipis atau berada di rentang margin of error.
Dengan kata lain, ada hasil survei yang menunjukkan Prabowo cenderung mengungguli Ganjar, dan begitu sebaliknnya: ada hasil survei yang memperlihatkan Ganjar mengungguli Prabowo.
Faktanya, Ganjar dan Prabowo acap kali menduduki peringkat pertama atau kedua di berbagai hasil survei. Posisi ketiga hampir selalu konsisten dihuni oleh bakal capres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan.
Dengan kecenderungan hasil survei yang menempatkan Ganjar dan Prabowo selalu berada di peringkat pertama atau kedua, kans Prabowo untuk memenangkan kontestasi akhir Pilpres 2024 dinilai lebih besar dibandingkan Ganjar.
Baca juga: Andika Perkasa, Bakal Cawapres atau Ketua Timses Ganjar Pranowo?
Alasannya, jika pilpres diikuti tiga capres, dan yang lolos di putaran kedua adalah Ganjar melawan Prabowo, diyakini Prabowo akan mendapatkan limpahan suara pendukung Anies dalam prosentase maksimal, mungkin nyaris 100%. Limpahan suara inilah yang akan menjadi penentu akhir kemenangan Prabowo.
Hal itu akan mengulang kisah Pilkada DKI 2017 saat petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai pemenang putaran pertama harus berhadapan dengan Anies Baswedan yang menjadi runner up. Maka, di putaran kedua, kemenangan Anies ditentukan oleh limpahan suara pendukung Agus Harimurti Yudhoyono nyaris 100%.
Hal serupa diprediksi bakal terulang jika Ganjar berhadapan dengan Prabowo di putaran kedua pilpres. Ini sekaligus menjelaskan mengapa jika Pilpres 2024 diikuti tiga capres (Ganjar, Prabowo dan Anies), maka untuk menang, Ganjar harus meraihnya di putaran pertama.

