JAKARTA (Sketsa.co) — Bakal calon presiden Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan memastikan akan mengumumkan kandidat calon wakil presiden yang akan mendampinginya setelah dia pulang dari ibadah haji.
“Doakan umur panjang. Sebelum haji enggak mungkin karena tinggal tiga jam lagi (keberangkatan). Tapi Insya Allah pasti sesudahnya,” kata Anies di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (22/6) menjelang keberangkatan ke Tanah Suci Mekkah.
Meski demikian, Anies tidak merinci kapan pastinya akan mengumumkan bakal cawapresnya. “Tapi sesudahnya (ibadah haji) itu tanggal berapa belum tahu. Bulannya apa belum tahu. Doakan saja, mudah-mudahan lebih awal lebih baik,” katanya.
Sebelumnya, Tim 8 Koalisi Perubahan untuk Persatuan (Nasdem, Demokrat dan PKS) mengatakan Anies sudah mengantongi satu nama cawapres. Namun, nama cawapres itu diperkirakan akan diumumkan sepulang Anies naik haji.
Meski beberapa kali diklaim sudah mengerucut ke satu nama, namun pengumuman kandidat cawapres Anies terus mengalami maju-mundur dan diliputi ketidakpastian. Hal itu memicu spekulasi dan analisi seputar alotnya negosiasi di antara elite tiga partai KPP, yakni Nasdem, Demokrat dan PKS.
Gosip dan analisis yang berkembang menyebutkan Nasdem kurang nyaman dengan sosok AHY untuk menjadi bakal cawapres Anies, sedangkan PKS cenderung menerima. Di sisi lain, Demokrat tampak berkeras dengan aspirasi pengajuan AHY sebagai cawapres.
Alhasil, Anies yang telah diberi mandat oleh KPP untuk memilih dan menentukan sosok bakal cawapresnya tampak bimbang untuk melangkah dan mengambil keputusan cepat.
Skenario pertama, jika Anies memutuskan menjadikan AHY sebagai bakal cawapresnya, dia harus memastikan Nasdem memberikan dukungan penuh, termasuk saat harus melakukan kerja-kerja politik kampanye dengan menggerakkan mesin partai secara maksimal.
Skenario kedua, jika Anies memilih sosok bukan AHY, dia harus memastikan dan mendapatkan jaminan bahwa Demokrat tidak keluar dari KPP, serta pada akhirnya benar-benar menggerakkan mesin partai secara maksimal untuk mendukung kampanye pilpres.
Baca juga: Jokowi di Acara Puncak Bulan Bung Karno: Selamat Berjuang!
Masalahnya, jika AHY tak dipilih sebagai cawapres, pasti ada kekecewaan besar di tubuh Demokrat. Dan kekecewaan itu tentu saja bisa berujung pada evaluasi dan kalkulasi ulang keberadaan partai tersebut di KPP.
Skenario terburuknya, Demokrat hengkang dari KPP dan mencari peruntungan politik di tempat lain, entah bergabung ke PDIP untuk mengusung pencapresan Ganjar Pranowo, atau merapat ke Partai Gerindra untuk mengusung pencapresan Prabowo Subianto.
Pilihan lain, meski kemungkinannya kecil, Demokrat abstain dalam hikuk-pikuk Pilpres 2024.
Faktanya, tak mudah bagi Anies Baswedan untuk memilih dan menentukan nama bakal cawapres pendampingnya. Salah-salah, mantan Gubernur DKI Jakarta itu malah bisa terjegal untuk maju pilpres…

