Sketsa.co
  • News
  • Ekonomi Bisnis
  • Historia
  • Lowongan Kerja
  • Event
  • Finansial
  • Internasional
  • Obituari
  • Opini
Reading: Rendahnya Elektabilitas dan Logistik Jadi Kendala Pembentukan Poros Golkar-PAN
Share
Aa
Aa
Sketsa.co
  • Home
  • News
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
Search
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Tech News
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Follow US
  • Contact
  • Blog
  • Complaint
  • Advertise
© 2023 Raka. All Rights Reserved.
Home » Blog » Rendahnya Elektabilitas dan Logistik Jadi Kendala Pembentukan Poros Golkar-PAN
Politik

Rendahnya Elektabilitas dan Logistik Jadi Kendala Pembentukan Poros Golkar-PAN

Meski koalisi Golkar-PAN sudah memenuhi persyaratan presidential threshold 20% kursi DPR RI, namun jika benar mengusung Airlangga-Zulkifli Hasan, pasangan ini menghadapi sedikitnya dua tantangan berikut, rendanya elektabilitas dan masalah logistik.

Last updated: Kamis, 8 Juni 2023, 11:13 AM
By Raden Parwoto
Share
3 Min Read
SHARE

JAKARTA (Sketsa.co) — Pembentukan poros keempat yang diwacanakan oleh Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional (PAN) memiliki potensi untuk mengubah konstelasi politik nasional secara signifikan.

Didik J. Rachbini, pengamat ekonomi-politik, menilai apabila kedua partai itu mengusung calon presiden dan calon wakil presiden sendiri, mereka akan mendapatkan keuntungan elektoral yang besar. Golkar dan PAN tidak akan lagi menjadi partai pendukung atau penumpang dalam Pilpres 2024.

Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, itu menilai Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) hampir bubar karena PPP telah memutuskan untuk bergabung dengan PDI Perjuangan (PDIP) dan mendukung Ganjar Pranowo sebagai capres.

Menurut Didik, momen transisi ini menjadi peluang besar bagi Golkar dan PAN untuk membentuk poros keempat guna memperkuat keberlanjutan partai mereka.

Apabila Golkar dan PAN tidak membentuk koalisi dan hanya menjadi pendukung partai lain, mereka tidak akan mendapatkan peningkatan suara, kecuali jika mendapatkan jatah kursi menteri di masa depan.

“Ini merupakan kesempatan bagi Golkar untuk berperan dalam membentuk pasangan sendiri dan menciptakan dinamika baru dalam politik dengan adanya empat pasangan calon,” papar Didik, Sabtu (27/5).

Dinamika partai

Saat ini, katanya, adalah kesempatan besar bagi Golkar, PAN, dan partai tengah lainnya untuk berperan serta mencalonkan kandidat mereka sendiri dalam pilpres. Apabila Golkar mencalonkan ketua umumnya, Airlangga Hartarto, dinamika partai akan terus hidup selama pilpres daripada mendukung kader partai lain. Wakil dari kader PAN juga dapat bergabung dengan Golkar.

Didik menambahkan bahwa Partai Golkar dan PAN memiliki kesempatan untuk merasakan pesta demokrasi dalam Pilpres sehingga dapat memanfaatkan keuntungan elektabilitas partai.

“Inisiatif pembentukan poros keempat dapat dikatakan sebagai suatu langkah yang rasional, yang didasarkan pada kepentingan partai-partai yang terus bersaing satu sama lain,” tandasnya.

Seperti diketahui, hingga kini Golkar dan PAN belum menyatakan dukungan ke capres tertentu. Namun, diperkirakan, Golkar dan atau PAN pada akhirnya akan mendukung entah Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto (Ketua Umum Partai Gerindra/Menteri Pertahanan).

Baca juga: Ini Dia Prediksi Kontestan Pilpres 2024: Anies-AHY, Prabowo-Erick Thohir, Ganjar-Sandiaga

Belakangan, muncul wacana pembentukan poros keempat yang beranggotakan Golkar dan PAN untuk mengusung capres-cawapres sendiri, yakni Ketum Golkar Arilangga Hartarto dan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Meski koalisi Golkar-PAN sudah memenuhi persyaratan presidential threshold 20% kursi DPR RI, namun jika benar mengusung Airlangga-Zulkifli Hasan, pasangan ini menghadapi sedikitnya dua tantangan berikut:

Pertama, elektabilitas Airlangga-Zulhas relatif kecil, sehingga duet ini agak sulit lolos ke putaran kedua pilpres seandainya di putaran pertama diikuti empat pasangan calon.

Kedua, dengan relatif rendahnya elektabilitas, duet Airlangga-Zulhas akan kesulitan menggalang dana kampanye karena keengganan “para investor” untuk menggelontorkan donasi di paslon yang kurang prospektif.

Pada akhirnya, soal pengusungan pasangan capres-cawapres bukan sekadar bisa mendapatkan tiket pilpres, tapi juga butuh dana atau logistik besar. Di titik ini, para donatur, bohir atau bandar memegang peran menentukan…

You Might Also Like

Peluang Prabowo di Pilpres 2029 jika Tanpa Gibran Cawapres

Membaca Ketegangan Naratif Kubu Pro Prabowo Vs Kubu Pro Jokowi

Tafsir Atas Teriakan Lantang Jokowi, “Saya Masih Sanggup…”

Isu Ijazah Palsu Jokowi dan Spekulasi Pilpres 2029

TAGGED: Airlangga hartarto-Zulkifli Hasan, Didik J. Rachbini, Golkar-PAN, poros keempat pilpres, rendahnya elektabilitas
Raden Parwoto 8 Juni 2023
Share this Article
Facebook Twitter Copy Link Print
Share
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Ini Dia Prediksi Kontestan Pilpres 2024: Anies-AHY, Prabowo-Erick Thohir, Ganjar-Sandiaga
Next Article Projo Tetap Tunggu Arahan Jokowi Soal Dukungan ke Capres
Leave a comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Articles

Latest News

Pindah KTP Antar-Provinsi Sekarang Lebih Gampang
Syarat Pelamar Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Merah Putih
Pemerintah Buka 30.000 Lowongan Manajer Kopdes Merah Putih, Status Pegawai BUMN
Selamat Datang “Ijazah Blockchain”
Apa Kabar Industri Kripto Iran
SuarNews.com
- Advertisement -
Sketsa.co
Follow US

© 2022 Raka Design Company. All Rights Reserved.

  • About Us
  • Contact
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?