JAKARTA (Sketsa.co) — Jusuf Wanandi, pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS), memprediksi bahwa bukan Surya Paloh, Jusuf Kalla, atau Megawati yang akan menjadi “King Maker” dalam Pilpres 2024, melainkan Presiden Jokowi.
Dalam Program Rossi Kompas TV, Kamis (26/5), mantan aktivis ’66 itu meyakini bahwa Presiden Jokowi yang akan menjadi “king maker” dalam pilpres mendatang.
Dengan kata lain, Jokowi diyakini akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi presiden berikutnya setelah dirinya lengser pada Oktober 2024.
Menjawab pertanyaan Rossi, dengan tegas dan lugas, Jusuf Wanandi meyakini bahwa Presiden Jokowi adalah “the real man king maker”. Menurut dia, Jokowi memiliki keberanian untuk mentransfer kekuasaannya kepada pemerintahan yang akan datang.
Lebih lanjut Jusuf Wanandi juga memprediksi bahwa Pilpres 2024 hanya akan diikuti dua pasangan capres-cawapres. Dia lalu menyebut berkaca dari Pilkada DKI Jakarta 2017 yang memunculkan tiga pasangan calon dan salah satunya harus kalah di putaran pertama.
Padahal saat itu banyak yang memperkirakan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebagai petahana bisa memenangkan Pilkada DKI.
Karena ada tiga pasang calon gubernur dan wakil, maka kemenangan Basuki-Djarot harus diuji kembali di putaran kedua dan berujung kekalahan.
“Saya kira koalisi pendukung keberlanjutan pemerintahan Jokowi ini tidak akan membiarkan lebih dari dua pasangan capres dan cawapres, karena terlalu banyak risiko,” ujar Jusuf Wanandi
Kepuasan Publik
Sejumlah hasil survei menyebutkan tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap pemerintahan Presiden Jokowi memang relatif tinggi.
Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada awal Mei lalu merilis hasil survei April 2023 yang menyebutkan bahwa tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Jokowi mencapai 82,%, sementara hasil survei serupa oleh Indikator Politik Indonesia mencapai 78,5%.
Tingginya tingkat kepuasan publik mencerminkan bahwa tingkat kepercayaan publik kepada pemerintah, terkhusus Presiden Jokowi, secara umum juga relatif tinggi.
Selain legitimasi, kepercayaan publik juga memiliki makna bahwa sebagai tokoh politik, Jokowi memiliki pengaruh yang besar, karena apa yang dikerjakannya selama menjadi presiden diyakini berada dalam koridor yang tepat.
Baca juga: Hanya Jika Selisih Elektabilitas Besar, Kans Duet Prabowo-Ganjar Terbuka Lebar
Hal ini membawa konsekuensi sebagai berikut: Pertama, Jokowi merasa berkepentingan agar presiden berikutnya menjaga dan meneruskan progam pembangunan yang telah dan sedang dikerjakan, misalnya pembangunan infrastruktur, termasuk megaproyek pindah Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan.
Untuk itu, Jokowi mau tidak mau merasa perlu harus turut cawe-cawe dalam mencari sosok atau kandidat presiden yang dianggap bisa dipercaya dan mampu meneruskan program-program tersebut.
Kedua, dengan tingkat kepuasan publik yang tinggi, Jokowi secara langsung atau tidak langsung “dinobatkan” publik sebagai “king maker’. Publik seperti menunggu siapa kandidat presiden yang akan diberi restu, endorsement dan didukung Jokowi untuk menjadi penerusnya.
Dan siapapun yang mendapatkan restu dan support Jokowi niscaya memiliki kans besar untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2024…

