JAKARTA (Sketsa.co) — Dengan lantang, Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi menyatakan bahwa partainya mengusung politik identitas.
“Kami akan secara lantang mengatakan, ‘Ya, kami Partai Ummat, dan kami adalah politik identitas’,” ucap menantu politisi senior Amien Rais itu dalam pidato pembukaan Rakernas I Partai Ummat di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (13/2/2023).
Menurut Ridho, tanpa moralitas agama, politik akan kehilangan arah. Dia menuding pihak sekuler yang menghendaki dipisahkannya agama dari politik.
Mantan dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu menyebut politik identitas merupakan politik yang sudah sesuai dengan Pancasila. “Politik identitas adalah politik yang Pancasilais,” ujarnya.
Ridho juga menyatakan Partai Ummat akan membangun perjuangannya dari masjid. “Yang seharusnya dilarang di masjid bukanlah politik gagasan tapi politik provokasi. Keduanya sangat berbeda,” katanya.
Partai Ummat dibesut oleh tokoh reformasi 1998 Amien Rais tak lama setelah dia hengkang dari Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2022 lalu. Amien saat ini menjabat Ketua Majelis Syura Partai Ummat.
Setelah sempat dinyatakan tidak lolos oleh KPU, Partai Ummat akhirnya dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2024 usai dilakukan verifikasi ulang.
Dalam Rakernas I tersebut, Partai Ummat memutuskan mendukung pencapresan Anies Baswedan yang sebelumnya telah mengantongi dukungan resmi dari Partai Nasdem, Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tergabung dalam Koalisi Perubahan.
Atas dukungan resmi Partai Ummat, Anies berkata, ”Support itu adalah tanda kepercayaan. Saya sampaikan terima kasih,” ujar Anies, yang sempat hadir memenuhi undangan Partai Ummat di hari kedua Rakernas, Selasa (14/2).
Beberapa analis politik menilai dukungan Partai Ummat yang terang-terangan mengusung politik identitas dinilai bisa menjadi beban bagi Anies yang kini tengah berusaha untuk menggeser citranya dari “kanan konservatif” menjadi “tengah moderat”.
Label politik identitas yang lekat dan dilekatkan pada Anies tentu saja merupakan ekor dari kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 yang oleh sebagian pihak dinilai sarat dengan eksploitasi politik identitas SARA yang memecah-belah masyarakat.
Baca juga: PDIP Terancam Kehilangan Momentum Pencapresan
Kini, saat Anies hendak berlaga di Pilpres 2024, ada kebutuhan nyata baginya untuk hadir dan dicitrakan sebagai sosok yang berdiri di tengah, mengayomi keberagaman SARA.
Pada gilirannya, hal itu diharapkan bisa memperluas basis konstituen di luar kelompok politik Islam yang selama ini memang secara konsisten mendukung ketokohannya.
Jika Anies berhasil memperluas dukungan di kalangan kelompok nasionalis, Islam moderat dan nonmuslim, diperkirakan peluangnya untuk memenangkan Pilpres 2024 terbuka cukup lebar.
Namun, tentu saja membalikkan persepsi memang tak semudah membalikkan telapak tangan.

