JAKARTA: Juru Bicara Presiden Prabowo Subianto, Adita Irawati, meminta maaf setelah pernyataannya yang menggunakan diksi ‘rakyat jelata’ menuai kontroversi. Pernyataan tersebut terkait dengan kasus dakwaan Miftah Maulana yang diduga menghina penjual es teh. Adita mengakui bahwa pemilihan kata tersebut tidak tepat dan mengklarifikasi bahwa itu bukan sengaja dipilih.
Adita, yang sebelumnya menjabat sebagai juru bicara Kementerian Perhubungan pada periode 2020-2024, mengungkapkan penyesalan Istana atas kejadian tersebut. Melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis, 5 Desember 2024, Adita menjelaskan bahwa kata ‘rakyat jelata’ digunakan sesuai dengan arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yaitu “rakyat biasa”. Ia menekankan bahwa tidak ada maksud untuk merendahkan atau melemahkan kelompok tertentu.
Lebih lanjut, Adita menyatakan bahwa kejadian ini muncul karena adanya perubahan makna pada diksi tersebut di era sekarang. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan lebih berhati-hati dalam menggunakan bahasa di masa depan dan terus melakukan introspeksi diri. “Sekali lagi, saya mohon maaf,” ujar Adita.
Sebelumnya, Adita menggunakan istilah ‘rakyat jelata’ saat menjelaskan sikap Presiden Prabowo yang selalu berpihak pada masyarakat kecil. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks penghakiman terhadap Miftah Maulana, yang dianggap menghina penjual es teh dalam sebuah pengajian. Pernyataan ini viral di media sosial dan mendapat reaksi tajam dari warganet.

