JAKARTA: Pertemuan antara Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni dengan Ivan Sugianto, tersangka kasus perundungan, menarik perhatian publik. Ivan, yang merupakan ayah dari seorang siswa SMA Cita Hati, kini ditahan di Rumah Tahanan Polrestabes Surabaya setelah menjadi tersangka dalam kasus viral tersebut.
Yang menjadi sorotan utama adalah lokasi pertemuan ini. Dalam unggahan akun Instagram Ahmad Sahroni, terlihat bahwa pertemuan tersebut tidak dilakukan di ruang tahanan biasa. Dalam foto yang diunggah, Ivan terlihat mengenakan baju tahanan oranye dengan tangan terborgol, sementara Sahroni memakai topi hijau, jaket hijau army, dan celana panjang. Keduanya duduk di sebuah ruangan yang tampak mewah, dengan sofa nyaman, pajangan kaligrafi besar di dinding, dan meja yang dihiasi berbagai jenis buah-buahan.
Sahroni menjelaskan bahwa kunjungannya ini bertujuan untuk melihat langsung perkembangan kasus yang melibatkan Ivan, yang dituduh memaksa seorang siswa SMA Gloria 2 Surabaya bernama Ethan untuk bersujud sambil menggonggong. Kejadian tersebut diduga bermula dari lelucon Ethan tentang rambut anak Ivan, Excel, yang dianggap mirip pudel.
Melalui unggahan tersebut, Sahroni menyampaikan apresiasi kepada Polrestabes Surabaya atas respons cepat mereka terhadap kasus ini. “Apreciate pada kecepatan gerak langkah Polrestabes Surabaya atas viralnya seseorang yang berlaku sangat buruk di hadapan semua orang,” tulisnya.
Ia juga menekankan bahwa kasus ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Sahroni mengingatkan agar tidak ada pihak yang merasa paling hebat sehingga bertindak semena-mena terhadap orang lain. “Mudah-mudahan kasus ini menjadi pembelajaran kepada semua pihak bahwa jangan merasa hebat dan jumawa untuk melakukan seenaknya,” katanya.
Selain itu, Sahroni memberikan pesan kepada para orang tua untuk lebih aktif mengawasi pergaulan dan perilaku anak-anak mereka. Ia menyebut bahwa sikap anak yang kerap mengejek atau membully teman dapat memicu permasalahan serius. “Sikap anak-anak kita kadang pergaulan yang bisa melakukan hinaan atau bully kepada seseorang yang dilihat kelucuan, sehingga menyebabkan banyak bully di semua sekolah,” ungkapnya.
Kasus ini mendapat perhatian besar dari masyarakat karena menyangkut isu yang sensitif, yakni perundungan di lingkungan sekolah dan di antara orang tua siswa. Perilaku Ivan dianggap mencerminkan sikap arogan yang tidak pantas dilakukan oleh siapa pun, terutama seorang orang tua. Sahroni berharap kejadian ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya etika dalam bersosialisasi dan mendidik anak.
Pertemuan ini pun menuai berbagai tanggapan, termasuk kritik terhadap fasilitas ruang tahanan yang digunakan untuk pertemuan tersebut. Namun, di luar itu, pesan moral dari kasus ini tetap menjadi fokus utama: pentingnya rasa hormat dan tanggung jawab, baik dalam pergaulan anak-anak maupun orang dewasa. Semoga kasus ini dapat menjadi pelajaran berharga untuk mencegah peristiwa serupa di masa depan.

