JAKARTA: Fenomena baru sedang melanda kelas menengah Indonesia: berutang kini lebih populer ketimbang menabung. Data perbankan menunjukkan sinyal mencemaskan—pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) terus melemah, sementara penyaluran kredit konsumtif justru makin kencang.
Menurut data Bank Indonesia, DPK per Mei 2025 hanya tumbuh 3,9% secara tahunan (year-on-year), menurun dari April (4,4%) dan Maret (4,7%). Perlambatan ini diperkuat oleh catatan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), yang mengungkapkan bahwa pertumbuhan tabungan masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta juga menurun menjadi 3,7% di Mei 2025.
Di sisi lain, kredit konsumtif tumbuh lebih cepat. Pada Mei 2025, penyaluran kredit konsumsi mencapai Rp2.252,4 triliun—naik 8,7% yoy. Bahkan, utang lewat skema buy now pay later (BNPL) di sektor perbankan naik drastis 32,18% menjadi Rp22,78 triliun.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, menilai menurunnya gairah menabung tidak lepas dari kondisi ekonomi masyarakat. “Lapangan kerja di sektor formal makin sulit, dan banyak yang beralih ke sektor informal dengan pendapatan tidak menentu,” jelasnya. Selain itu, mereka yang dulunya memperoleh relaksasi pinjaman saat pandemi, kini harus mengajukan utang baru untuk menutup cicilan lama karena masa restrukturisasi berakhir.
Tingginya suku bunga juga memaksa masyarakat menggali tabungan untuk membayar cicilan. Promosi masif BNPL pun membuat gaya hidup konsumtif makin menjamur. “Ketika tagihan menumpuk dan penghasilan tetap, pilihan terakhir adalah menyentuh tabungan,” tegas Bhima.
Solusinya? Bhima menyarankan pemerintah untuk menurunkan suku bunga dan memperketat regulasi BNPL. Ia juga mengusulkan kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) menjadi Rp7,5 juta serta penurunan PPN dari 11% menjadi 9% guna memberi ruang lebih besar bagi masyarakat untuk menabung.
Sementara itu, pengamat perbankan Moch Amin Nurdin menyebut perlambatan ekonomi sebagai biang kerok utama. “Daya beli belum pulih, pertumbuhan ekonomi melambat, dan DPK pun terdampak,” ujarnya. Ia juga menyebut tren perpindahan dana dari tabungan ke instrumen investasi lain seperti obligasi sebagai salah satu penyebab DPK lesu.
Namun tak semua bank terdampak negatif. Bank Mandiri mencatat DPK tumbuh 8,54% yoy menjadi Rp1.406,8 triliun, dengan dukungan dari platform digital seperti Livin’ dan Kopra. BCA pun mencatat pertumbuhan positif, terutama pada segmen nasabah dengan simpanan di bawah Rp100 juta, yang naik 7,4% yoy.
BTN juga tak mau ketinggalan, mencatat DPK naik 10,26% yoy menjadi Rp397,8 triliun, walau pertumbuhan tetap didominasi nasabah dengan saldo di atas Rp100 juta.
Di tengah badai ekonomi ini, tantangan bagi perbankan bukan hanya menjaga likuiditas, tapi juga memulihkan kepercayaan dan kebiasaan masyarakat untuk kembali menabung. Karena pada akhirnya, menabung bukan hanya soal keuangan pribadi, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi nasional.

