JAKARTA (Sketsa.co): Kalau Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto tidak lagi menggandeng Gibran Rakabuming Raka sebagai cawapres di Pilpres 2029 nanti, diprediksi peluang dan dinamika politiknya bakal berubah, meski tidak serta-merta membuat peluangnya hilang.
Seperti diketahui, Partai Gerindra secara resmi telah memutuskan untuk kembali mengusung Prabowo sebagai capres di Pilpres 2029. Dukungan ini datang dari struktur partai sejak awal 2025, dan seluruh kader siap bekerja mewujudkannya.
Beberapa partai koalisi lain juga menyatakan dukungan terhadap Prabowo sebagai capres, tetapi belum menyatakan sikap pasti soal cawapres. Misalnya PAN terbuka mendukung Prabowo, tapi ingin menempatkan kadernya sebagai calon wapres. Sementara PKB juga telah secara terbuka mendukung Prabowo maju lagi di pilpres mendatang, meski tidak mensyaratkan kandidat cawapres tertentu.
Dengannya, hal itu berarti Prabowo tetap punya potensi “bahan bakar politik” berupa koalisi partai, bahkan jika tanpa Gibran di posisi cawapres.
Survei menunjukkan bahwa Prabowo tetap menjadi tokoh dengan elektabilitas tertinggi di antara tokoh-tokoh yang berpotensi maju sebagai capres pada 2029. Bahkan, nama seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berada jauh di bawah Prabowo dalam survei intensi pemilih.
Ini menunjukkan bahwa Prabowo secara personal masih kuat dalam preferensi publik, meskipun tanpa Gibran sebagai tandem cawapres.
Elektabilitas Gibran
Beberapa analis dan laporan media memandang bahwa Gibran belum menunjukkan pencapaian politik atau prestasi signifikan yang bisa meningkatkan popularitasnya secara dramatis sejak menjabat sebagai wapres—sehingga perannya sebagai magnet suara dianggap terbatas.
Pendapat lain bahkan menyebut Gibran lebih terlihat sebagai simbol kesinambungan politik Jokowi daripada aktor politik independen yang kuat.
Kalau benar demikian, hilangnya Gibran dari tiket Pilpres 2029 mungkin tidak menurunkan daya tarik Prabowo secara drastis — apalagi bila ia bisa memilih cawapres lain yang strategis.
Tentu ada risiko dan tantangan jika Prabowo tak lagi gandeng Gibran di pilpres mendatang. Antara lain, koalisi bisa berubah, di mana partai-partai yang sebelumnya siap mendukung bisa menuntut posisi atau kompensasi seperti slot cawapres atau perubahan komposisi koalisi.
Di sisi lain, basis pemilih tertentu (yakni sebagian pemilih yang melihat Gibran sebagai representasi “regenerasi” atau kesinambungan Jokowi) mungkin lebih memilih tokoh lain jika Gibran tak lagi ada di tiket pencapresan Prabowo. Jokowi sendiri menyatakan mendukung duet Prabowo-Gibran maju lagi di pilpres mendatang.
Sementara itu, munculnya tokoh kuat lainnya di kurun waktu 2026–2028), bakal membuat peta persaingan menjadi lebih deras. Di titik ini, Prabowo harus melakukan kalkulasi politik tajam agar tidak salah memilih cawapres pendampingnya.
Jadi, peluang Prabowo di Pilpres 2029 tetap tinggi karena dukungan koalisi kuat dan elektabilitas personal yang tinggi. Tidak menggandeng Gibran tidak otomatis merugikan secara fatal, apalagi jika Prabowo memilih cawapres yang lebih kuat dan strategis.
Risiko terbesar adalah di arena politik koalisi, siapa yang jadi partner, dari partai mana, dan bagaimana strategi menarik pemilih di luar basis kuat Prabowo.

