JAKARTA (Sketsa.co): Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) berkali-kali menegaskan ke kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bahwa dirinya masih sanggup turun ke lapangan membesarkan partai yang diketuai putranya itu.
“Kalau diperlukan, saya harus datang, saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi,” ujar Jokowi dalam pidato pada ajang Rakernas PSI di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (31/1/2026).
Meski beberapa bulan terakhir dikabarkan mengalami masalah alergi kulit dan perubahan raut muka dibandingkan saat-saat terakhir sebelum mengakhiri jabatan presiden periode keduanya pada 20 Oktober 2024, namun Jokowi tampak tetap bersemangat di atas panggung politik PSI.
Raja Juli Antoni, Sekjen PSI, menegaskan bahwa hingga kini mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak atau belum bergabung secara resmi dengan partai tersebut.
Namun, de facto, kehadirannya di forum Rakernas PSI seperti hendak mengonfirmasi pemihakannya terhadap partai yang kini memiliki logo siluet gajah tersebut.
Ada spekulasi, dengan tidak atau belum memastikan dirinya menjadi pengurus atau anggota PSI—apapun posisinya nanti—, hal itu masih membuka peluang bagi Jokowi untuk pada akhirnya bergabung dengan partai lain yang telah lama eksis, misalnya Golkar, Gerindra atau bahkan PDI Perjuangan, partai yang pernah mengusungnya di Pilwakot Surakarta (Solo), Pilkada DKI Jakarta, hingga Pilpres 2014 dan 2019.
Magnet bagi PSI
Sejauh ini, dan mungkin hingga pelaksanaan agenda Pemilu 2029, Jokowi tampaknya akan menjadi ikon PSI alias menjadi sosok yang diharapkan menjadi magnet besar untuk menggaet pemilih. Bahkan Kaesang bin Jokowi, Ketum PSI, pun juga Ketua Harian PSI Ahmad Ali amat yakin partai ini akan mampu masuk dalam jajaran partai peraih suara terbanyak pada Pemilu 2029. Tentu optimisme itu terkait dengan keberadaan Jokowi yang diharapkan menjadi ikon PSI.
Masalahnya, benarkah pamor, pesona dan daya tarik politik Jokowi akansama kuatnya dengan saat dia masih menjadi presiden dengan segala intsrumen kekuasaan yang melekat pada dirinya, dan sedikit-banyak turut mengokohkan kedigdayaannya dalam gelanggang politik elektoral di Tanah Air selama sedikitnya 10 tahun terakhir?
Suka tidak suka, Jokowi adalah mantan presiden meski mendapat julukan Presiden ke-7 RI. Tentu dia tak lagi seleluasa dulu, yang nyaris bisa menggerakkan secara efektif seluruh sumberdaya kekuasaan dan pengaruh yang melekat pada dirinya.
Jokowi, seperti juga mantan presiden lainnya yang masih eksis (Megawati Soekarnoputri dan SBY), hanyalah tokoh politik yang sudah, mulai dan pada akhirnya akan mengecil perannya dalam panggung politik elektoral. Cepat atau lambat.
Kita tahu, meski Megawati belum tergantikan sebagai Ketum PDIP, toh pengaruhnya dalam politik elektoral kian memudar. Kejenuhan politik dan berubahnya peta demografi pemilih plus selera politik telah secara niscaya menggerogoti pamor dan pesona politik para tokoh yang pernah berjaya di masanya.
Pun SBY, yang juga pernah menjadi presiden untuk dua periode (2004 hingga 2014), kini tak lagi semempesona dulu. Meski masih menjadi Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, toh SBY belakangan tampak membatasi aktivitas politiknya, dan lebih sering tampil dalam ruang publik melalui kegiatan yang lebih santai, menekuni hobinya melukis atau menyanyi.
Harus diakui, sebagai sesama mantan presiden, Jokowi tidak sesantai atau serileks Megawati dan SBY. Kehadirannya di panggung Rakernas PSI belum lama ini yang memperlihatkan semangatnya yang masih menggebu, seperti memberi isyarat kepada masyarakat politik di negeri ini bahwa Jokowi masih akan berusaha sekuat tenaga turut mewarnai sirkulasi kekuasaan setidaknya sampai digelarnya Pemilu 2029, termasuk pilpres.
“Saya masih sanggup” seolah sebuah deklarasi bahwa Jokowi siap menguji apakah kesaktiannya sebagai tokoh politik yang tidak pernah kalah dalam kontestasi elektoral masih kuat….

