JAKARTA: Memasuki tahun ketiga, perang Rusia-Ukraina terus menunjukkan eskalasi tanpa tanda-tanda perdamaian. Dalam perkembangan terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberikan izin kepada Ukraina untuk menggunakan senjata buatan AS dalam serangan ke wilayah Rusia. Langkah ini memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional, memperlihatkan kompleksitas dan ketegangan politik global yang semakin meningkat.
1. Kanselir Jerman dan Reaksi NATO
Kanselir Jerman Olaf Scholz menjadi sorotan setelah ia menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas upaya mengakhiri perang. Scholz mendesak Putin agar menarik pasukannya dari Ukraina demi menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Namun, langkah ini memicu kritik dari anggota NATO lainnya seperti Polandia dan Lithuania.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyebut tindakan Scholz sebagai hal sia-sia, sementara Menteri Luar Negeri Lithuania Gabrielius Landsbergis menilai perdamaian hanya dapat dicapai melalui kekuatan, bukan diplomasi semata. Scholz membela diri dengan menyatakan bahwa pembicaraan langsung dengan Putin adalah langkah penting untuk menegaskan bahwa Rusia tidak akan mendapat dukungan dari Jerman dan negara-negara Barat lainnya dalam agresinya terhadap Ukraina.
2. Donald Trump dan Risiko Perang Dunia III
Langkah Biden juga mendapat kritik tajam dari kubu mantan Presiden AS Donald Trump. Putra sulung Trump, Donald Trump Jr., menilai keputusan ini memperbesar kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga (PD3). Ia menuding kompleks industri militer AS sengaja mendorong konflik untuk keuntungan ekonomi mereka.
Trump sendiri menyatakan keprihatinannya atas eskalasi konflik yang dianggapnya dapat dihindari melalui pendekatan diplomasi yang lebih baik. Dalam pidatonya, ia kembali menawarkan visi kebijakan luar negeri yang lebih fokus pada perdamaian dan pengurangan keterlibatan AS dalam konflik global.
3. Reaksi Rusia: Ancaman PD III
Rusia merespons keras keputusan AS. Anggota parlemen Rusia, Maria Butina, menilai langkah ini meningkatkan risiko Perang Dunia Ketiga. Presiden Vladimir Putin sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa persetujuan Barat terhadap penggunaan senjata jarak jauh oleh Ukraina merupakan bentuk keterlibatan langsung NATO dalam konflik tersebut.
Putin menegaskan bahwa hal ini akan memaksa Rusia untuk mempertimbangkan langkah-langkah balasan yang lebih keras. Pernyataan ini menegaskan eskalasi ancaman antara kedua pihak yang semakin memperburuk situasi.
4. Korea Utara dan Kritik terhadap Barat
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un turut mengkritik AS dan Barat. Ia menuduh mereka menggunakan Ukraina sebagai alat untuk melemahkan Rusia. Kim juga menyebut langkah Washington sebagai upaya untuk memperluas pengaruh militernya secara global.
Kim menekankan pentingnya memperkuat pertahanan nuklir Korea Utara sebagai langkah antisipasi terhadap ketegangan geopolitik yang semakin meningkat. Selain itu, laporan tentang pengiriman pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia dalam perang Ukraina juga menambah dimensi baru dalam konflik ini.
5. China dan Seruan Gencatan Senjata
China, yang mengklaim bersikap netral dalam konflik ini, mengutuk langkah AS dan menyerukan gencatan senjata segera. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menekankan pentingnya solusi politik untuk konflik ini.
Namun, meskipun menekankan netralitas, NATO menuduh China sebagai “pendukung tegas” Rusia. Tuduhan ini muncul karena Beijing tidak pernah secara resmi mengutuk tindakan Rusia.
6. Eskalasi Serangan di Ukraina
Konflik militer di lapangan juga semakin intens. Pada 17 November 2024, Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan 120 rudal dan 90 drone. Serangan ini menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur energi yang meluas, terutama menjelang musim dingin.
Ukraina melaporkan berhasil menembak jatuh sebagian besar serangan tersebut. Namun, dampak terhadap kehidupan warga sipil tetap signifikan, termasuk pemadaman listrik di sejumlah wilayah.
7. Serangan Balasan Ukraina
Ukraina juga melakukan serangan balik terhadap wilayah Rusia, termasuk penyerangan menggunakan drone ke pabrik-pabrik militer di Rusia. Serangan ini menunjukkan kemampuan Ukraina untuk melancarkan operasi di dalam wilayah musuh, sekaligus menjadi simbol perlawanan terhadap agresi Rusia.
8. Elon Musk dan Kritik terhadap Kebijakan AS
CEO SpaceX, Elon Musk, turut memberikan tanggapan atas keputusan Biden. Dalam diskusi di platform media sosial X, Musk mendukung kritik terhadap kebijakan AS yang dianggap mendorong eskalasi konflik. Ia menyebut bahwa perang ini hanya menguntungkan segelintir elit dan membahayakan stabilitas global.
Perang Rusia-Ukraina terus memperlihatkan kompleksitas yang melibatkan banyak aktor internasional. Keputusan AS untuk memberikan izin kepada Ukraina menggunakan senjata buatannya menambah dimensi baru pada konflik ini, memicu reaksi dari berbagai pihak yang khawatir akan terjadinya eskalasi lebih lanjut.
Di tengah situasi ini, seruan untuk gencatan senjata dan penyelesaian politik masih bergema, meskipun tampaknya sulit untuk diwujudkan dalam waktu dekat. Dengan musim dingin yang semakin dekat, kondisi kemanusiaan di wilayah konflik juga menjadi perhatian mendesak. Dunia kini berada di persimpangan, antara mendukung perdamaian atau terjerumus lebih dalam ke jurang perang besar.

